Kekristenan dan Homoseksual

           

Isu tentang Homoseksual bukanlah suatu hal yang baru. Aktivitasnya sudah kita temukan di sepanjang sejarah, yaitu sejak zaman Perjanjian Lama di Alkitab sampai hari ini. Namun, perkembangan legalitasnya di dalam negara baru dalam waktu 1-2 dekade ini. Belanda sudah meresmikan pernikahan sesama jenis sejak 2001 (pertama di dunia), Amerika Serikat melegalkan pada tahun 2015 dan di dalam New York Times, menurut Jackie Calmes dan Peter Baker, Barrack Obama sudah menyatakan dukungan legalnya di pidatonya tanggal 9 Mei 2012. Di belahan negara bagian Amerika seperti Kanada, sudah dilegalkan sejak 2005, Mexico sejak 2010, dan Puerto Rico sejak 2015. Bahkan pengadopsian anak dari pernikahan sesama jenis juga sudah dilegalkan. Namun, apakah legalitas global ini berarti memberi izin terhadap praktek homoseksualitas?

Di dalam wawasan dunia Kristen, homoseksualitas bukanlah seksualitas yang dirancang oleh Allah sejak semula. Alkitab menjelaskan kepada kita, bahwa desain Allah sejak awal bagi seksualitas manusia adalah heteroseksual. Di dalam Kejadian 1:27, Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan, Adam dan Eve (Hawa) dirancang sebagai keluarga pertama di dalam sejarah, bukan Adam dan Steve! Alkitab secara jelas menyatakan bahwa heteroseksualitas adalah pola ilahi yang ditetapkan bagi umat manusia dan perbuatan seksual yang kudus hanya dilakukan di dalam konteks pernikahan heteroseksual, sehingga kita tahu bahwa homoseksual adalah suatu bentuk penyimpangan seksual akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa dan dosa telah merusak seluruh aspek kehidupan manusia. Oleh karena dosa ini, manusia selalu ingin melawan Tuhan dan perintah-Nya, sehingga kita melihat kaum homoseksual begitu aktif membela tindakan mereka, bahkan tidak sedikit mereka yang Kristen, memutarbalikkan ajaran Alkitab mengenai seksualitas. Yang lebih mengejutkan, teks-teks Alkitab yang diputarbalikkan ini bukanlah dilakukan hanya oleh orang Kristen biasa saja, tetapi juga para Teolog, baik yang gay atau lesbi maupun yang hanya mendukung homoseksual. Teks-teks Alkitab di dalam PL maupun PB ditafsirkan untuk mendukung tindakan mereka, misalnya: Rev. James D. Cunningham mengatakan bahwa Yonatan dan Daud dikatakan adalah pasangan gay; Daniel A. Helminiak, seorang profesor yang memiliki dua gelar Ph.D, mengatakan bahwa kitab Rut dan Naomi mungkin saja adalah pasangan lesbian; dan Timothy Koch, pakar Perjanjian Lama dan pendeta gay, mengatakan Elia adalah seorang gay; bahkan Yesus sendiri mendukung homoseksualitas! Mengejutkan bukan? Tidak hanya itu, sebagian dari mereka juga memberikan argumen, bahwa karena Alkitab tidak banyak membahas atau menyebut tentang homoseksual secara terang-terangan, maka para penulis Alkitab sebenarnya tidak ada masalah atau tidak mempermasalahkan praktek tersebut. Dibalik tindakan ini, mereka sebenarnya sedang melawan Allah dan Firman-Nya, karena keberdosaan mereka. Jadi, apakah benar pemikiran dan argumen mereka? Apakah karena Alkitab tidak menyatakan sesuatu itu dilarang secara eksplisit, maka sesuatu itu diperbolehkan?

Dr. Michael L. Brown mengatakan bahwa argumen yang dilontarkan oleh kaum homoseksual tersebut jelas keliru. Jika Alkitab memang sangat sedikit menulis atau membahas mengenai homoseksual, tidak berarti Alkitab tidak mempermasalahkannya, tetapi karena Alkitab memang adalah kitab heteroseksual. Hubungan yang wajar dan sesuai dengan tujuan rancangan Allah adalah hubungan lawan jenis, sehingga para penulis Alkitab memang tidak perlu lagi mengajarkan banyak hal tentang larangan homoseksualitas (faktanya ada perintahnya seperti di dalam Im.18:22). Tepatnya, Alkitab lebih banyak memaparkan kasus-kasus penyimpangan seksual yang terjadi sepanjang sejarah, termasuk homoseksualitas (Kej.19:5; Hak.19:22; Rm.1:27). Kita juga dapat memberi argumen, bahwa desain awal Allah adalah supaya manusia beranak cucu, memenuhi, dan menguasai bumi. Apa yang akan didapat dari pasangan sesama jenis? Keturunan? Tentu mustahil! Mungkin mereka akan menjawab “tapi kami bisa aja mengadopsi anak”, ya tentu saja bisa, tetapi siapa yang akan dipanggil ibu dan siapa yang dipanggil ayah? Ayahnya dua? Ibunya dua? Bukankah pertumbuhan dan perkembangan anak secara fisik dan psikologis akan sehat jika mereka melihat dan memahami peran atau figur ayah dan ibu yang baik? Mereka tidak akan pernah mencapai tujuan yang Allah tetapkan sejak semula.

Banyak sekali pengajaran wawasan dunia Kristen yang tidak terdapat di dalam Alkitab secara eksplisit dalam bentuk istilah atau perintah yang jelas, tetapi prinsip-prinsipnya dikemukakan. Doktrin dan istilah “Allah Tritunggal” pun tidak ada di dalam Alkitab, tetapi prinsipnya jelas ada. Apakah karena tidak ada istilah “tritunggal” maka kita menolak Allah dalam tiga pribadi? Bahkan konsep berpacaran, boleh memakai tatoo atau tidak, apakah rambut orang Kristen boleh diwarnai atau tidak, bagaimana seseorang harus memelihara kesehatan, memelihara lingkungan, dsb, juga tidak ada secara eksplisit dijelaskan, namun kita bisa belajar dari contoh-contoh hidup tokoh-tokoh Alkitab atau mengambil prinsip dasar dari bagian ajaran lainnya. Dengan demikian, tidak benar bahwa hanya karena tidak ada perintah atau istilah homoseksualitas di dalam Alkitab, berarti Allah memperbolehkan tindakan tersebut.

Argumen kaum homoseksual yang lain adalah mengenai kecenderungan homoseksual itu adalah bawaan genetis atau telah ada sejak lahir. Mereka membela diri bahwa tindakan mereka adalah sejak lahir, sehingga tidak dapat diubah dan masyarakat harus menerima mereka apa adanya. Tentu kita tidak menolak argumen ini 100%, karena harus diakui oleh ilmuwan bahwa kelainan hormon dapat mempengaruhi seksualitas seseorang. Akan tetapi, hal tersebut sangat jarang dan kecil kemungkinannya. Kebanyakan kasus disebabkan oleh lingkungan, artinya sesuatu yang “ditularkan.” Jika anda adalah seorang yang mengalami penyimpangan ini, artinya anda adalah seorang gay atau lesbi, jangan pernah mengatakan ini adalah penyakit genetis atau bawaan, sehingga anda tidak dapat berbuat apa-apa, selain menurutinya. Ingatlah kita ini adalah moral agent, seorang yang berpribadi, artinya kita selalu memiliki kehendak bebas untuk melakukan mana yang benar dan baik. Jika suatu waktu kakak atau adik perempuan kalian dilecehkan secara seksual atau diperkosa oleh seseorang dan setelah ditangkap, orang itu mengatakan “saya sejak lahir memang memiliki penyakit hypersex, sehingga saya tidak dapat menolaknya”, apakah anda akan terima alasan itu? Hakim di pengadilan pun tidak akan langsung mempersilahkan orang itu keluar dari ruangan setelah ia mengatakan penyakit tersebut adalah alasan mengapa ia melakukan kejahatan. Kita selalu memiliki pilihan untuk setiap tindakan kita. Pilihan untuk mempraktekkan homoseksualitas jelas adalah kekejian dihadapan Tuhan, karena segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Allah adalah dosa (hamartia – yang artinya “meleset”).

Namun, ada berita baik bagi kalian jika kalian bergumul selama ini dan menyadari bahwa hal ini mendukakan hati Allah. Anda tidak perlu khawatir, selama anda tidak  atau berhenti mempraktekkan homoseksualitas, anda aman, sekalipun kecenderungan hati anda mengarah kepada sesama jenis. Allah mengasihi dan sangat mampu untuk memulihkan saudara. Sangat banyak kesaksian orang dengan latar belakang homoseksual akhirnya dipulihkan oleh Allah dan menikah dengan lawan jenis. Akan tetapi, jika sekalipun Allah tidak memulihkan anda, ingatlah bahwa tidak semua manusia harus menikah, karena memang ada orang-orang yang ditetapkan dan dikaruniai Allah untuk hidup selibat, seperti yang Yesus katakan di dalam Matius 19:12 dan yang Paulus katakan dalam 1 Korintus 7:7. Pekerjaan dan panggilan Allah dalam hidup ini tetap dapat anda selesaikan dengan-Nya dan saudara-saudara seiman, sekalipun tanpa pasangan hidup.

Bagi orang-orang Kristen yang “normal”, ingatlah jangan berbuat dosa dengan menghina atau menghakimi mereka yang menyimpang secara seksual. Secara sosiologis, kita tidak memiliki masalah dalam menjalin hubungan sebagai masyarakat normal dengan mereka. Masalah kita terletak kepada ranah Teologis. Kita benci dosanya, tetapi bukan orangnya. Mereka juga adalah ciptaan yang serupa dan segambar dengan Allah. Beberapa gereja memang menolak dan mengusir mereka. Sadarilah, bahwa kita semua juga adalah manusia yang berdosa, hanya saja dosa kita bukan penyimpangan secara seksual, tetapi dalam hal lain. Jadi, sebenarnya kita juga tidak lebih baik dari mereka. Padahal, meskipun kita berdosa, Yesus Kristus tetap memilih dan mengasihi kita, serta menjadikan kita sebagai milik kepunyaan-Nya. Oleh karena itu, sebagaimana Kristus menerima dan memulihkan kita, demikian juga kita harus terus memiliki pengharapan dan berdoa agar dapat membawa mereka bertobat kepada Kristus dan dipulihkan, bahkan mereka juga akan dipakai untuk membawa orang-orang pelaku homoseks kepada Kristus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: