Agama itu Dari Mana? Kok Banyak Banget? (2)

Kita telah melihat di dalam tulisan saya sebelumnya mengenai bagaimana agama-agama muncul sangat banyak di dunia ini, di sepanjang sejarah, bahwa agama muncul karena respon manusia terhadap wahyu umum Allah. Oleh karena manusia telah jatuh ke dalam dosa, maka responnya bisa berbeda-beda dan terdistorsi, sehingga manusia tidak dapat melihat dan mengenal Allah yang benar, serta membuat sebuah sistem sendiri dalam mendekati Allah (bagi yang belum baca, bisa lihat di sini https://danielwinardi.com/2020/07/04/agama-itu-darimana-kok-banyak-banget). Jadi, sekarang kita akan melihat sedikit mana agama yang benar-benar mengajarkan tentang Kebenaran dan keselamatan manusia. Pertanyaan mengenai keselamatan merupakan pertanyaan ultimat yang ingin dijawab setiap manusia. Nanti kita akan lihat bagaimana Harold Netland, seorang profesor bidang filosofi agama dan intercultural studies.

Agama-agama di dunia memiliki tawaran yang unik dan bervariasi mengenai keselamatan bagi pemeluknya. Natur atau benih untuk mencari dan kembali kepada yang “ilahi” ada di dalam diri setiap manusia sepanjang sejarah, sehingga dari keresahan tersebut manusia mulai membuat sistem agama untuk mendapatkan yang ilahi tersebut. Terlebih lagi, manusia memiliki kerinduan untuk beralih dari dunia yang tidak ideal ini kepada “dunia” di luar sana yang sangat baik atau ideal. Buddhisme mengatakan bahwa manusia akan mencapai nirwana setelah berhasil mencapai pencerahan yang artinya terlepas dari segala keinginan. Islam menjanjikan ada surga bagi mereka yang berhasil melakukan semua perintah allah yang diturunkan melalui Muhammad. Hindu dan Jain menjanjikan moksha atau pembebasan diri dari putaran reinkarnasi dan bersatu dengan “yang satu” itu. Namun, semua agama ini mengajarkan jika ingin mencapai semua itu, manusia harus mencapainya dengan kekuatan sendiri dan apabila gagal, maka mereka harus mengulang kehidupan terus-menerus (reinkarnasi) seperti di dalam Buddhisme, Hindu, dan Jain atau masuk hukuman kekal dalam neraka yang diajarkan Islam. Nah, kekristenan juga menjanjikan Surga, yaitu kembali kepada Allah Tritunggal dan hidup bersama-Nya di dalam kekekalan. Akan tetapi, apakah semua itu bisa dicapai oleh usaha manusia sendiri? Di sinilah terletak perbedaan Kristen dengan agama-agama lain di dunia. Apabila kita mempelajari lebih dalam agama-agama tersebut, kita akan menemukan bahwa hanya kekristenan yang mampu menjelaskan dengan sangat konsisten dan komprehensif atas keresahan manusia dalam hidup ini, khususnya mengenai keselamatan itu sendiri. Ketidak-konsistenan dan ketidak-logisan justru akan kita temukan di dalam agama-agama lain.

            Kekristenan memiliki pengajaran yang unik, karena kekristenan mengajarkan bahwa keselamatan tidak bergantung kepada usaha manusia, tetapi kepada Allah sendiri. Loh masa begitu? Ya, karena telah terbukti sepanjang dunia ini berputar, manusia – tidak peduli suku, bangsa, agama, negara – adalah makhluk berdosa sejak lahirnya. Islam dan agama lain pada umumnya menolak konsep ini, bahwa manusia dilahirkan berdosa, karena menurut mereka, manusia dilahirkan seperti “kertas putih”, suci, tidak berdosa, dan nanti lingkungan keluarga dan sosial lah yang akan corat-coret kertas tersebut, sehingga manusia bisa berperilaku jahat. Kekristenan justru mengajarkan, bahwa manusia sudah mewarisi dosa sejak manusia pertama, Adam. Apa buktinya bahwa manusia sudah berdosa sejak lahir? Banyak sekali. Pernahkah anda melihat anak batita memukul kakak atau adiknya sendiri karena berebutan mainan? Mungkin kalian yang sudah punya anak akan lebih sering melihat pemandangan ini, di mana anak kalian sering menangis karena berkelahi, bahkan waktu mereka belum bisa bicara. Kalau mau bukti lebih banyak, bisa langsung buka youtube dan kita akan menemukan beberapa video yang menampilkan perkelahian anak bayi. Siapa yang mengajari mereka untuk menarik rambut adiknya? Siapa yang mengajari mereka untuk menggigit tangan kakaknya? Siapa yang mengajari mereka untuk pukul temannya sendiri? Adakah orang tua yang mengajarkan anaknya untuk bohongin mereka atau guru di sekolah waktu mereka ditegur? Dari mana anak bisa membentak orang tuanya? Rasanya tidak mungkin dan tidak ada yang mau mengajari anaknya untuk berbuat begitu. Kalau memang manusia terlahir suci seperti yang diajarkan John Locke, Islam, dan agama lain, harusnya seorang kakak akan mengelus kepala adiknya terus dan memberi terus apa yang diminta adiknya supaya tidak berkelahi atau seorang anak harusnya berkata jujur terus kepada orangtua dan gurunya, tapi kenyataanya? Tidak! Inilah salah satu bukti bahwa sejak lahir manusia sudah memiliki natur dosa, sehingga segala kecenderungan hatinya selalu berbuat dosa atau melawan Allah (Kej. 6:5; Rm. 3:10,23). Kalau dari kecilnya seperti itu, bagaimana kalau sudah besar? Coba hitung, dari kita bangun tidur jam 5 pagi dan tidur jam 12 malam, lebih banyak perbuatan baik atau perbuatan jahatnya? Kalau mau jujur, pasti lebih banyak perbuatan jahat. Jadi bagaimana? Kekristenan menawarkan jalan yang indah di dalam kemacetan ini, bahwa Allah yang berinisiatif untuk turun mencari manusia dan menyelamatkannya. Apa yang tidak dapat dilakukan secara sempurna oleh manusia, yaitu perbuatan baik yang cukup untuk selamat, telah dikerjakan oleh Allah, melalui Anak-Nya yang Tunggal, Yesus Kristus di atas salib. Ia bukan Allah yang kerjaannya cuma memerintahkan manusia supaya taat, taat, dan taat, tapi Allah telah turun sendiri ke dunia untuk merasakan apa yang kita rasakan, resahkan, yaitu penderitaan. Ia bukan Allah yang omdo, tapi ia memikul salib, hukuman kekal yang seharusnya ditujukan bagi kita karena dosa.

            Harold Netland memberikan tiga pertanyaan mendasar yang dapat digunakan ketika menguji kebenaran di dalam agama-agama: 1) Apa natur religius ultimat dalam agama tersebut; 2) Apa natur masalah manusia; 3) Apa natur keselamatannya. Dalam tulisan ini, kita hanya melihat kepada tiga agama besar di dunia di luar Kekristenan, yaitu Islam, Buddha, dan Hindu. Kita akan melihat bagaimana Kekristenan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dibandingkan dengan tiga agama tersebut.

Islam. Agama Islam mulai muncul dan menyebar luas di abad ke-7. Tepatnya ketika Muhammad mengaku mendapatkan wahyu dari allah melalui malaikat Jibril di gua Hira, pada tahun 610 M. Sejak saat itu Muhammad mulai menyebarkan bahwa hanya ada satu allah sebagai pencipta dan penguasa tertinggi. Konsep mengenai satu allah ini disebut tawhid. Allah inilah satu-satunya realitas ultimat yang harus dipatuhi dan disembah. Upaya apapun untuk mengaburkan perbedaan yang tajam antara Pencipta dan ciptaan dianggap syirik atau penyembahan berhala. Mengenai natur masalah manusia, Islam berbeda dengan konsep Kekristenan. Islam tidak mengenal konsep kejatuhan, dosa asal, kerusakan radikal natur manusia, dan ketidakmampuan manusia untuk bebas dari belenggu dosa. Dosa dipandang sebagai kelemahan atau kecacatan yang disebabkan ketidaktaatan kepada perintah allah selama hidupnya. Lalu bagaimana manusia bisa diselamatkan? Islam mengajarkan jika manusia melakukan 5 Rukun Islam dan mempercayai 6 Rukun Iman, maka kemungkinan manusia dapat memperoleh keselamatan dan diperkenankan mendapatkan Surga yang kekal. Pada akhir hidup seseorang, perbuatan baik dan jahatnya selama ia hidup akan diukur. Jika perbuatan baiknya lebih banyak, maka allah akan menyelamatkannya, tapi jika sebaliknya, maka orang tersebut tidak diperkenankan masuk surga. Manusia tidak memerlukan penebus, karena memang tidak mungkin seseorang dapat menanggung dosa orang lain. Setiap orang bertanggung jawab terhadap dosanya sendiri. Jadi inti keselamatan di dalam ajaran Islam adalah bergantung kepada usaha manusia itu sendiri untuk tunduk kepada perintah allah atau tidak.

Buddha. Apa yang kita ketahui sekarang mengenai Buddhisme adalah sebuah keluarga besar dari berbagai tradisi kepercayaan dan filosofi, yang berkembang selama 2500 tahun di dalam banyak kebudayaan. Buddhisme berkembang dengan sangat pesat ke berbagai daerah di dunia, Asia Tenggara, Asia Tengah, Cina, Korea, dan juga Jepang. Dalam perkembangannya, Buddhisme melahirkan banyak sekali variasi di dalam ajarannya secara signifikan. Namun, terlepas dari keberagamannya, Buddhisme mengakar pada ajaran dari Siddharta Gautama, setelah ia mendapat pencerahan di bawah pohon Bodhi. Siddharta dilahirkan di Kapilavastu, bagian utara India, dalam sebuah kerajaan, pada abad ke-6. Sulit untuk menentukan tahun yang tepat mengenai kelahiran Siddharta. Para scholars memperkirakan kelahirannya di tahun 583 SM dan kematiannya di tahun 483 SM. Secara etimologi kata, “Buddha” sendiri berarti “orang yang telah mencapai pencerahan”. Setelah mempraktikkan kehidupan yang asketis, pada suatu malam, Siddharta mengalami empat tahap dhyana (trance) dan akhirnya mengalami pencerahan. Di dalam buddhisme, yang menjadi realitas ultimat bukanlah pribadi pencipta yang mahakuasa. Tidak ada konsep tuhan dalam dasar ajaran Buddhisme, oleh karena itu Buddhisme adalah ateis. Yang mungkin dapat disandingkan sebagai realitas ultimat adalah nirwana, karena bagi penganut Buddhisme, nirwana adalah permanen dan tidak terkondisi. Nirwana tidaklah sama dengan Surga seperti dalam pengertian di dalam Kekristenan. Nirwana bukanlah suatu tempat, melainkan suatu keadaan yang berhasil terlepas dari penderitaan yang disebabkan oleh keinginan. Tentu saja orang dapat berdebat mengenai perbedaan realitas ultimat seiring perkembangan ajaran Buddhisme sendiri. Misalnya saja bagi penganut Zen Buddhisme menganggap sunyata atau kekosongan dan bagi Buddha Pure Land memilih konsep Buddha Amida sebagai realitas ultimat. Tetapi tetap saja melihat akar dari Buddhisme sendiri, tidak ada konsep pencipta atau tuhan yang kekal seperti kepercayaan teisme. Mengenai natur keselamatan, Buddhisme sangat menekankan terlepasnya seseorang dari samsara atau siklus kelahiran kembali. Dengan menganut Four Noble Truths dan Jalan Utama Berunsur Delapan, seseorang dapat mencapai pencerahan dan nirwana. Selama belum mencapai nirwana, seseorang harus terus membayar karma, perbuatan-perbuatan masa lalunya. Jadi, konsep keselamatan manusia di dalam Buddhisme tentu saja bergantung kepada manusia itu sendiri.    

Hindu. Hindu merupakan satu diantara tiga agama besar di India, selain Buddha dan Jain. Sejarah kehidupan keagamaan masyarakat India dimulai kira-kira pada pertengahan abad ke-20 SM. Sekelompok suku yang bernama Aryan menduduki daerah utara India, di sekitar lembah Indus, dengan membawa kepercayaan mereka, misalnya politeisme.  Penganut Hindu Advaita Vedanta yang mengarah kepada monistik menganggap Brahman sebagai realitas ultimat. Namun dikalangan penganut yang tidak terlalu filosofis, lebih memilih berbagai dewa. Umumnya Hinduisme di India percaya kepada 330 juta dewa dan menyembah tiga dewa besar; Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Sebenarnya tidak terlalu jelas apakah Brahman sebagai realitas ultimat adalah personal atau impersonal. Yang terutama adalah Brahman memanifestasikan dirinya ke dalam seluruh proses kosmik atau yang biasa dikenal dengan panteisme.  Tidak jauh berbeda dengan Buddhisme, pandangan Hinduisme tentang natur masalah adalah mengenai manusia yang terjebak dalam samsara. Akar masalah manusia bukanlah dosa atau pemberontakan terhadap Tuhan, melainkan ketidaktahuan atau ignorance terhadap memahami natur realitas yang sesungguhnya. Keselamatan adalah terlepasnya manusia dari samsara atau yang disebut moksha, yaitu pembebasan. Pembebasan ini dapat tercapai dengan menjalankan karma marga (tidak mementingkan diri sendiri dan taat kepada aturan moral dan ritual), jnana marga (membebaskan pandangan kepada natur realitas), dan bhakti marga (menaati satu tuhan yang personal). Selain itu, Ravi Zacharias mengatakan inti dan sasaran keselamatan dalam Hinduisme adalah bahwa kita harus mengusahakan kesatuan yang ilahi, yaitu Brahman, karena kita adalah bagian dan perwujudannya di dalam alam semesta.

Setelah membahas sedikit mengenai tiga agama besar tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa usaha manusia menjadi peran sentral di dalam keselamatan, meskipun objek yang dituju tidak terlalu jelas, allah atau sebuah keadaan yang permanen. Jika berbicara mengenai tiga standar tersebut, kekristenan berbeda cukup jauh dan menyediakan jawaban yang paling koheren antara satu pertanyaan dengan pertanyaan lainnya. Tentu saja kita harus mengakui bahwa tidak akan pernah ada sebuah wawasan dunia yang mampu menjawab semua persoalan di dunia ini, namun kekristenan adalah yang paling komprehensif di antara agama-agama lain. Sampai kapanpun manusia tidak akan pernah mencapai kebaikan yang sempurna. Sewaktu manusia ingin berbuat baik supaya dirinya selamat saja sudah merupakan kejahatan, karena ia sama saja menggunakan manusia sebagai alat supaya dirinya bisa selamat. Berbuat kebaikan dengan motivasi yang tidak tulus saja sudah merupakan kejahatan. Jangankan membunuh atau mencuri, sewaktu kita tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, itupun sudah sebuah dosa. Lalu mau sampai kapan manusia mencapai standar kebaikan itu? Meskipun demikian, ada kabar baik bagi keresahan kita, yaitu ketidakmampuan kita lepas dari dosa sudah ditanggung oleh Yesus Kristus 2000 tahun lalu di atas kayu salib. Salib itu melambangkan kasih dan keadilan Allah. Kita yang seharusnya mendapat hukuman kekal, digantikan oleh Allah yang telah menjadi manusia untuk membuktikan kasih-Nya kepada kita. Hanya di dalam Kristus kita mendapat ketenangan atas keresahan pengharapan kita akan kehidupan kelak dan tidak ada di dalam agama atau sistem filsafat apapun. Dan Ia akan datang kembali untuk membawa kita yang telah percaya dan menerima-Nya sebagai Pemilik dari kehidupan ini. Maukah anda menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat-mu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: