Apa Arti Kisah Yesus Memberi Makan 5 Ribu Orang?

Kisah Yesus memberi makan 5000 orang tertulis di semua injil dan bukan cerita yang asing bagi kita. Sebagian besar dari kita sudah mendengarnya sejak kita kecil, terutama kalau kita ikut sekolah minggu. Pesan yang disampaikan dari cerita itu seringkali mengenai mujizat yang dilakukan Yesus dengan sangat hebat, yaitu melipatgandakan 5 roti & 2 ikan menjadi sangat banyak, sampai sanggup memberi makan 5 ribu laki-laki (belum termasuk perempuan & anak-anak). Kita diberi penafsiran bahwa kita gak perlu kuatir akan kemiskinan atau kekurangan kebutuhan jasmani, karena Yesus sangat sanggup membuat mujizat melipatgandakan apa yang kita punya menjadi berkelimpahan. Namun, apakah benar pesan para pendeta itu adalah yang ingin disampaikan Yesus dan penulis injil tersebut kepada pendengar dan pembacanya pada saat itu? Kalau memang benar Yesus ingin memberi kelimpahan secara jasmani, mengapa waktu itu Ia sendiri tidak mendirikan pabrik kayu terbesar di Israel? Dan mengapa para murid tetap menjadi nelayan biasa? Kita sering disuguhi janji-janji mujizat dari Allah oleh para pengkhotbah, bahwa jika kita memberikan sesuatu yang kecil kepada Allah dengan iman, maka kita akan terima mujizat berlipat ganda, termasuk rumah, mobil, perusahaan (silahkan lihat contohnya https://www.instagram.com/p/CCQybwDFppf/?utm_source=ig_web_copy_link). Cukup banyak lagu-lagu yang berisi mengenai janji serupa, misalnya: “ketika ku berdoa, mujizat itu nyata.” Kalau mau jujur, seringkali kita berdoa dan mujizat gak terjadi juga. Saya sangat percaya mujizat sampai hari ini, tetapi kalau semua kejadian disebut sebagai mujizat, yang padahal bukan sebuah mujizat, maka kita sesungguhnya tidak mengerti apa itu mujizat dan artinya bagi kita. Dalam artikel singkat ini, kita akan lihat apa yang sebenarnya yang ingin disampaikan oleh 4 penulis injil mengenai kisah tersebut. Akan tetapi, ada 2 prinsip yang harus kita mengerti bersama terlebih dahulu:

Pertama. Kita harus mengerti bahwa kisah di Alkitab, terutama injil, ingin mengisahkan siapa Yesus dan apa yang dikerjakannya bagi dunia. Begitu juga dengan semua tanda dan mujizat yang dilakukan pada saat itu. Yesus seringkali mengatakan mengenai tanda-tanda (Mrk.16:17; Yoh. 2:23; 4:54; 6:26). Tanda-tanda atau mujizat yang dilakukan Yesus tidaklah pernah dilakukan demi mujizat itu sendiri, melainkan menunjuk kepada sesuatu yang oleh tanda itu dituju. Sama seperti kalau kalian menemukan tanda jalan “200 m ke Water Boom”, tanda itu bukanlah Water Boom itu sendiri, tapi menunjuk arah jalan. Maka ketika menemukan tanda itu, anda jangan berdiri di sana dan langsung mengenakan pakaian renang! Tanda selalu menujuk kepada sesuatu yang mau dituju. Begitu juga dengan mujizat, dipakai untuk menunjuk kepada sesuatu yang ingin Yesus sampaikan. Jadi sangat salah kalau orang Kristen menganggap mujizat itu dilakukan demi mujizat itu sendiri. Kedua, cara yang paling baik untuk menafsirkan sebuah perikop atau teks Alkitab adalah melalui teks Alkitab yang lain, karena memang Alkitab memiliki kesatuan organis antar teks, sehingga jika kita menemukan sebuah teks yang kurang jelas, sebaiknya diterjemahkan dari teks yang bercerita mirip dan lebih jelas maknanya.

Saya tidak mungkin mengeksposisi 1 perikop secara lengkap, tapi melalui beberapa ayat ini, kita sudah dapat melihat dengan cukup jelas apa isi dan makna perikop ini.

Yesus adalah Roti Hidup. Di dalam Yohanes 6:35, Yesus menyebut dirinya sebagai Roti Hidup yang dikontraskan dengan roti manna yang Allah berikan kepada Israel dulu. Manna itu juga memang turun dari Surga, tetapi roti itu tetap membawa kematian bagi Israel. Pada zaman PB, Allah memberikan Roti yang membawa kehidupan kekal, yaitu Yesus Kristus sendiri. Jadi, kisah ini sebenarnya mau menunjukkan bahwa roti yang diberikan kepada orang banyak itu adalah simbol dari diri-Nya sendiri yang adalah Roti Hidup. Dari mana kita bisa tahu? Di dalam Matius 14:19 (Mrk. 6:41; Luk. 9:16; Yoh. 6:11) ada beberapa kata yang harus kita perhatikan, yang menjadi kunci kita mengerti, yaitu mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkan, dan memberikannya. Ada yang familiar dengan kata-kata ini dalam sebuah kisah lain? Tentu saja kita tahu, karena kita merayakannya setiap bulan, yaitu perjamuan kudus. Jadi, kisah ini paralel dengan kisah perjamuan malam yang Yesus lakukan dengan para murid di dalam Mat. 26:26, sehari sebelum Ia diserahkan untuk disalib:

“Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya…”

Dalam teks Yunani, kedua teks tersebut juga sama kata dasarnya yaitu λαβωνlabon (2nd Aorist Participle dari kata lambano = mengambil), εὐλόγησεeulogese (Aorist indicative dari kata eulogeo = mengucap berkat), κλασας – klasas (Aorist Participle dari kata klao = memecahkan), ἔδωκεedoke (Aorist Indicative dari kata didomi = memberikan). Lihat hubungannya? Para penulis injil ingin memberi tahu bahwa kisah memberi makan itu adalah tanda yang merujuk kepada Yesus sendiri yang adalah Roti yang akan dipecahkan untuk memberi makan bagi kehidupan begitu banyak orang. Ia sendiri sangat cukup untuk memberi kehidupan bagi kita semua dan itu tergenapi ketika Ia mati di salib.

Masih belum yakin? Mari kembali lagi ke Yohanes 6. Kalau kalian membaca secara lengkap (13-71), di situ juga ditulis kisah yang sama, namun dengan beberapa pemaknaan yang jauh lebih tersurat dan dalam dibandingkan injil yang lain, karena memang injil Yohanes memuat doktrin yang sangat dalam tentang Yesus (7 perkataan “Akulah…” misalnya). Setelah kisah memberi makan 5 ribu orang tersebut, Yesus dan para murid pergi menyebrang ke Kapernaum (16-25) dan orang-orang yang sebelumnya telah makan kenyang roti dan ikan itu datang menyusul mereka ke sana, karena mereka takjub melihat mujizat-mujizat ajaib sebelumnya. Setelah mereka bertemu, anehnya Yesus menegur mereka dan mengatakan bahwa mereka mengikuti Yesus karena telah makan roti dan kenyang, bukan karena melihat tanda apa dibalik peristiwa itu dan bukan karena siapa Yesus sebenarnya. Buat saya ini adalah hal yang sungguh aneh, bahwa Yesus langsung mempersoalkan roti yang mereka telah makan itu,

Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. 27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.”
28 Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?”
29 Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”
30 Maka kata mereka kepada-Nya: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? 31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga.

Buat apa mempermasalahkannya? Bukankah Yesus sendiri yang mau memberi mereka makan? Sudah jelas mengapa Yesus menegur mereka, yaitu karena mereka memang salah mengartikan peristiwa itu, sama seperti kita yang selalu menafsirkan kisah itu dan manfaatnya bagi diri kita sendiri, padahal kisah itu adalah tentang who Jesus is. John Mac Arthur mengatakan pada zaman itu hidup cukup sulit dan roti adalah makanan pokok yang sangat berharga, sehingga kalau ada orang yang melakukan mujizat luar biasa dan menyediakan roti bagi mereka, maka itu adalah seperti surga bagi mereka. Saya membayangkan, orang di zaman itu saja ditegur, apalagi kita. Padahal kita sudah hidup 2000 tahun setelah mereka, we are supposed to be smarter daripada mereka, paling tidak dalam hal melihat makna kisah ini. Benar-benar aneh kalau kita mengulangi kesalahan yang sama dengan mereka yang ditegur Yesus di zaman itu!

“Terus kalau ini bukan mengenai mujizat pelipatgandaan, 12 bakul itu artinya apa? Bukannya sisa yang berlimpah itu adalah bukti dari kelimpahan yang Yesus akan berikan buat kita?” Mari lihat kisah yang serupa yaitu kisah memberi makan 4 ribu orang di dalam Matius 15:32-39. Kata-kata kunci yang dipakai tadi juga sama: mengambil, mengucap syukur, memecah-mecahkan, dan memberikan. Namun, di kisah ini diceritakan bahwa sisanya adalah 7 bakul penuh. Tahukah kalian bahwa kata “bakul” di kedua cerita itu menggunakan kata yang berbeda dalam Yunaninya? Kalau di dalam terjemahan Indonesia memang gak kelihatan bedanya. Di dalam kisah 5 ribu orang, kata “bakul” menggunakan kata κοφινουςkovinus (noun masculine plural – keranjang), sedangkan dalam kisah 4 ribu orang, kata “bakul” menggunakan kata σπυριδαςspuridas (noun feminine plural – keranjang). Loh kenapa Matius dan Markus menggunakan kata yang berbeda untuk sebuah kata “keranjang” yang sama? Ina Hidayat, seorang dosen Perjanjian Baru di Sekolah Tinggi Teologi Reformed Indonesia mengatakan kata kovinus dipakai karena mengisahkan kejadian itu terjadi di daerah Galilea, yaitu Tiberias (Yoh. 6:1) yang adalah daerah orang Yahudi, sehingga 12 bakul itu sangat mungkin menunjuk kepada 12 suku Israel. Sedangkan kata spuridas dipakai ketika menceritakan kisah itu terjadi di daerah yang dianggap kafir oleh Yahudi (Mrk. 7:1) adalah kata yang digunakan untuk “keranjang” di daerah dekapolis, sehingga 7 bakul sangat mungkin menunjuk kepada 7 bangsa asli Kanaan/kafir seperti yang ditulis dalam Kisah Rasul 13:19. Dan kata spuridas ini artinya adalah keranjang yang lebih besar daripada kovinus, sehingga mampu untuk membawa seorang Paulus di dalamnya (Kis. 9:25). Lalu artinya apa? Ingat bahwa orang Yahudi menganggap mereka adalah bangsa yang sangat spesial di mata Allah dan bangsa non-Yahudi adalah kekejian? Nah, penulis injil ingin mengatakan bahwa Yesus memberikan dirinya juga untuk semua bangsa, baik Yahudi dan non-Yahudi. See? Tema bahwa Yesus mati tidak hanya bagi bangsa Yahudi adalah sangat penting dan ditulis di banyak bagian dalam PB. Jadi, kisah ini sesungguhnya bercerita mengenai Yesus yang adalah Roti Hidup bagi semua bangsa. Ia sendiri sudah sangat cukup untuk dipecah-pecahkan bagi banyak orang.

“Ini bukannya cuma masalah beda penafsiran dari masing-masing teologi?” Betul setiap orang punya teologinya sendiri dalam melihat Alkitab dan dunia ini, tetapi manakah teologi yang lebih tepat dan lebih benar? Apakah benar tidak ada teologi yang paling tepat atau paling bagus? Jawabannya memang tidak ada teologi yang 100% mampu menyelesaikan semua persoalan dan paling benar mutlak, tetapi yang lebih baik ada. Bagaimana tahunya? Saya akan membahas lebih rinci di tulisan berikutnya, tapi untuk sekarang saya bahas sedikit. Paling tidak ada 3 ukuran untuk mengetahui mana teologi yang paling baik untuk dianut. Saya meminjam 3 poin dari Yakub Trihandoko, yaitu bahwa sebuah teologi disebut baik kalau:

  • Dekat dengan Alkitab
  • Konsisten dengan logika
  • Koheren dengan realita

Teologi yang saudara anut harus dekat dengan Alkitab, artinya sesuai dengan ayat-ayat yang tertulis dan berbagai detail-detailnya. Lalu teologi itu harus konsisten dengan logika. Tuhan sudah memberi kita logika yang begitu hebat untuk dipakai mengerti Dia dan Firman dengan baik dan penafsiran kita terhadapnya harus konsisten dengan logika, atau bahkan melampaui logika, bukan tidak masuk logika. Tidak ada isi Alkitab yang tidak masuk akal, tapi yang melampaui akal banyak. Kita harus tahu bedanya. Kalau melampaui logika, itu seperti sudah masuk dulu ke akal, tapi setelah dipikir-pikir, pikiran kita tidak bisa menangkap sepenuhnya doktrin itu dan memang ternyata hal itu menembus pikiran kita karena melampauinya, seperti doktrin Allah Tritunggal. Sedangkan kalau tidak masuk akal, sebelum sesuatu itu masuk ke pikiran, ia sudah mental duluan karena berkontradiksi dengan logika manusia, seperti “Daniel itu seorang bujangan dan juga ayah dari 2 anak”, ini jelas kontradiksi, karena bujangan sudah jelas belum menikah atau “Allah itu 1 pribadi dan 3 pribadi” ini adalah kontradiksi, tetapi kalau “Allah itu 1 hakekat dan 3 pribadi” tidaklah kontradiksi. Dan yang ketiga adalah teologi harus koheren dengan realita, artinya hal itu harus sesuai dengan pernyataan-pernyataan dan kenyataan di dalam hidup kita. Nah, sekarang kalau kisah 5 roti dan 2 ikan ini ditafsirkan menurut teologi yang mengatakan bahwa Allah sanggup melipatgandakan milik kita yang kecil, menjadi banyak sekali asalkan kita beriman minta kepada Yesus, hal ini memang dekat dengan Alkitab, karena memang kelihatannya seperti itu. Namun, teologi tidak cukup hanya dekat dengan Alkitab, tetapi harus konsisten dengan logika. Apakah iman dan doamu bisa menyuruh-nyuruh Tuhan? Apakah Tuhan itu sejenis bank atau gunung kawi yang kalau bawa persembahan sedikit, maka ia bisa melipatgandakan materi itu? Bukankah logika kita mengatakan “Allah” adalah Pribadi yang mutlak dan berkuasa atas apapun, termasuk manusia? Jadi, jika Allah lebih berkuasa daripada kita, mengapa Ia bisa dibujuk dengan iman kita? Lagipula roti dan ikan ini adalah makanan pokok pada saat itu, seperti nasi bagi kita sekarang dan juga tidak dikatakan mereka meminta-minta makan. Jadi gak ada hubungannya sama pelipatgandaan rumah, mobil, harta, uang, dsb, seperti yang banyak dikhotbahkan selama ini. Kemudian apakah penafsiran ini sesuai dengan realita? Saya yakin jawabannya pasti tidak, karena banyak sekali orang Kristen sudah memberikan banyak sekali milik mereka kepada Tuhan, tetapi tetap sakit-sakitan, miskin, sulit bayar kontrakan, sulit sekolahin anak, dsb. Kalau dikatakan “minta saja dengan iman, pasti dapat” ini sudah jelas tidak sesuai dengan realita. Pada kenyataannya, kita seringkali juga tidak mendapat mujizat pelipatgandaan dari Dia. Jadi kalau kita menganut “percaya saja pasti mendapat”, maka ketika kita sakit dan berdoa siang malam gak sembuh juga, susah loh kalau ditanya kenapa teologimu gak sesuai. Teologi seperti itu bukanlah sebuah teologi yang baik. Akan tetapi, kalau kita menafsirkan kisah tersebut seperti yang dijelaskan di atas, maka 3 poin di atas terpenuhi, yaitu dekat dengan Alkitab sudah jelas, karena saya sudah menunjukkan berbagai ayat yang mendukung penafsiran tersebut, sedangkan penafsiran untuk mujizat pelipatgandaan bisa dapat dukungan ayat dari mana? Lalu penafsiran itu konsisten dengan logika, karena memang untuk menghidupkan kita yang mati karena dosa, harus Allah sendiri yang memberi diri-Nya bagi tebusan banyak orang dan kita disatukan di dalam Dia. Orang mati tidak bisa menghidupkan dirinya sendiri. Kemudian koheren dengan realita, yaitu kita sekarang sudah terbukti menerima Kristus sendiri dan Roh Kudus, yang menghidupkan kita dari kematian rohani dan kita akan hidup kekal bersama-Nya.

Lalu apa implikasinya bagi kita sekarang? Kita diminta untuk hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yoh. 2:6) dan salah satu yang kita bisa lakukan untuk mengikut Dia adalah menjadi roti yang terpecah juga bagi orang lain. Kalau saya boleh pakai bahasa sendiri, kira-kira seperti ini: Yesus adalah Roti Hidup yang menghidupkan kita yang telah mati di dalam dosa, tapi kita adalah roti-roti kecil yang paling tidak dapat membuat orang lain dapat bertahan hidup. Kita tidak mungkin menghidupkan kerohanian orang lain. Hanya Allah yang sanggup melakukannya. Akan tetapi, lewat kesatuan kita di dalam Kristus yang adalah Roti, maka kita ditugaskan untuk menjaga saudara iman kita untuk bertahan hidup melalui roti-roti kecil. Sudahkah hidup kita menjadi kekuatan bagi orang lain? Sudahkah perkataan kita membawa penghiburan bagi saudara kita yang susah? Masihkah kita mengeluh ketika pelayanan? Sudahkah kita memberi yang terbaik di dalam pekerjaan kita ataupun keluarga? Pertanyaan ini menjadi perenungan bagi kita. Ia telah menjadi Roti Hidup supaya kita dapat bangkit dari kematian rohani dan juga jangan lupa bahwa ada orang-orang yang telah “memecahkan” tubuhnya bagi kita supaya kita bisa bertahan menjalani Kekristenan sampai hari ini. Saatnya giliran kita!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: