Ketaatan adalah Sebuah Spiritualitas yang Baik

Menghidupi Kekristenan tidaklah mudah, tidak semudah apa yang dikhotbahkan oleh para hamba-hamba Tuhan setiap minggunya. Banyak aspek yang harus kita perhatikan, renungkan, dan lakukan dalam hidup kita. Dan salah satu bagian yang dapat dikatakan sebagai dasar dan yang sangat penting dalam perjalanan kita mengikut Kristus adalah soal ketaatan. Tuhan telah memanggil kita untuk menjadi anak-anak-Nya, diselamatkan, dan diberikan tugas yang mulia, yaitu untuk menjadi seperti Kristus dan menjadikan orang lain juga seperti Kristus (memuridkan). Tugas ini tentu tidaklah mudah dan menuntut, atau kalau saya boleh katakan “merampas” hidup kita. Tugas ini memerlukan ketaatan dari hidup kita atas setiap perintahnya dalam hidup sehari-hari.

Kita akan belajar mengenai ketaatan akan panggilan-Nya dari salah satu perikop mengenai salah satu tokoh yang mungkin cukup jarang dibahas di dalam khotbah-khotbah, yaitu Saul di dalam 1 Sam. 15:13-23. Umumnya ketaatan selalu dikaitkan dengan kisah Abraham, Yusuf, Musa, Maria ibu Yesus, dan Tuhan Yesus sendiri. Tetapi mari kita melihat dan belajar sedikit dari kisah perjalanan hidup Saul dan bagaimana tingkat ketaatannya kepada Allah. Semoga Allah berbicara kepada kita lewat kisah ini.

Ciri-ciri orang yang tidak taat:

1. Selalu menyembunyikan dosanya

Saul mengatakan dia telah melakukan perintah Tuhan (13). Orang yang berdosa, biasanya menyembunyikan dosanya, ingin lari dari kesalahannya dan juga penghakiman Tuhan. Bagaimana itu dilakukan? Yaitu dengan membenarkan dirinya sendiri. Matthew Henry mengatakan: “Thus sinners think, by justifying themselves, to escape being judged of the Lord; whereas the only way to do that is by judging ourselves.[1]  Tidak kita pungkiri bahwa memang Saul telah taat melakukan perintah membinasakan Amalek, tapi hanya setengah taat. Bukankah hidup kita seringkali seperti Saul? Selalu berusaha menyembunyikan dosa di hadapan Tuhan dan manusia, tidak bertobat, malah membenarkan dan menutup diri dalam jubah agama.

2. Menyalahkan orang lain

Saul mengatakan bahwa rakyatlah yang membawa dan menyelamatkan ternak-ternak tersebut (16). Orang yang tidak mau taat atau hidup di dalam ketidaktaatan, cenderung untuk menyalahkan orang lain. Saul mengaku bahwa ia telah melakukan perintah Tuhan dan kesalahan dalam eksekusinya ia timpakan kepada orang-orangnya.[2] Keberdosaan kita selalu menyebabkan kita untuk membenarkan diri dan mencari kambing hitam, daripada menanggung tanggung jawab untuk dirinya sendiri. Dosa menyebabkan kita tidak ingin disorot oleh terang dan menyembunyikan ketelanjangan diri kita dan menyebut orang lain yang telanjang. Kita telah melihat kejadian ini di awal Alkitab, yaitu kejatuhan manusia. Adam yang sebenarnya memikul tanggung jawab atas larangan memakan buah pengetahuan, menyalahkan Tuhan dan juga Hawa dengan berkata “perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku…” (Kej. 3:12). Yesus juga memperingatkan kita untuk mengeluarkan balok di mata kita sebelum mengeluarkan selumbar dari mata orang lain, karena memang kecenderungan hati kita adalah melihat kesalahan orang lain seakan-akan diri sendiri tidak berdosa.

3. Mengelak dengan “tapi

Seringkali kita menganggap diri ini sudah taat kepada Tuhan, padahal kita hanya taat setengah dari apa yang diperintahkan dan sebenarnya taat setengah bukanlah ketaatan atau kita sering menyangkal sebuah ketaatan dengan alasan untuk ketaatan lain, yang sebenarnya bukan pada konteksnya. Ketaatan dengan kata “tapi” bukanlah ketaatan yang sejati di hadapan Allah. Saul melakukan kesalahan ini dua kali dalam perikop ini, pertama di ayat 15, “Ia mengatakan “Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas.” dan setelah itu ia bukan bertobat, tetapi masih memberi alasan di ayat 21 dan 22, “Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas. Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal (20-21). Sebuah alasan yang bagus bukan? Mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan adalah baik, tetapi seperti yang Lasor katakan bahwa sama seperti kasus Akhan di dalam Yosua 7, Saul tidak mengerti peperangannya atas Amalek tersebut bukanlah peperangan untuk merampas barang atau untuk menjadikan tawanan sebagai budak, tetapi ini adalah pembalasan atas nama Allah.[3] Saul mencoba melawan perintah Tuhan dengan perintah-Nya yang lain. Tapi sayang sekali, usaha itu gagal dan tidak berkenan di hadapan Tuhan. Mungkin kita juga sering melakukan hal ini. Anak muda yang memilih pasangan yang tidak seiman, seringkali menggunakan alasan yang sama, bahwa ia ingin melakukan perintah penginjilan. Hal ini sama saja dengan melawan perintah Tuhan dengan perintah Tuhan.

Apa Respon Tuhan terhadap ketidaktaatan?

  1. Membongkarnya (14)

Tidak lama setelah Saul menutupi kesalahannya ketika Samuel datang, Tuhan membongkar ketidaktaatan Saul dengan memakai mulut binatang jarahan Saul sendiri, “Tetapi kata Samuel: “Kalau begitu apakah bunyi kambing domba, yang sampai ke telingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar itu?” Mulut kambing dan domba menentang sendiri kesaksian palsu Saul.[4] Hal ini juga kita lihat di dalam kisah Bileam. Tuhan memakai seekor keledai untuk menegur ketidaktaatan Bileam (Bil. 22:21-35). Ironis sekali, bahwa mungkin penulis Alkitab ingin menunjukkan bahwa hewan lebih dapat mendengar, menuruti Allah dan lebih jujur daripada manusia yang tidak mau mendengar dan taat kepada-Nya. Dosa memang dapat kita tutup-tutupi dari orang lain, tetapi tidak dengan Tuhan. Cepat atau lambat Ia akan membongkarnya, baik dengan cara yang lembut maupun dengan keras dan memalukan.

2. Menuntut pertanggungjawaban (17-19)

Allah yang telah memilih dan mengurapi Saul menjadi raja, memberi perintah spesifik baginya, yaitu untuk menumpas semua penduduk Amalek. Ini adalah sebuah panggilan Saul, bahwa Ia menjadi raja dan menjalankan Teokrasi bagi Israel. Akan tetapi, Saul telah berulang kali gagal untuk taat, demi kesombongan dan pemberontakannya di hadapan Tuhan. Dan sekarang Tuhan menuntut pertanggungan jawab atas Saul atas panggilannya tersebut melalui Samuel. Ini merupakan hal yang sangat mengerikan dan perlu kita pikirkan baik-baik. Ketika pada saatnya kelak Kristus meminta pertanggungan jawab kepada kita atas panggilan-Nya, “bukankah Aku telah memilih engkau untuk pekerjaan ini dan itu?” apakah yang akan menjadi jawab kita? Kita perlu merenungkan hal ini!

Jadi, apa yang harus kita lakukan?

  1. Mengaku dosa dan Meninggalkannya.

Tentu kita sebagai manusia tidak sempurna dan kitapun  pernah melakukan hal yang sama atau mungkin lebih jahat dari Saul. Kita tidak boleh menganggap diri lebih baik dari Saul. Mungkin di masa lalu kita pernah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati dan panggilan Tuhan dan juga di waktu-waktu ke depan kita akan melakukan banyak ketidaktaatan, tetapi milikilah hati yang mau bertobat. Inilah perbedaan antara Saul dengan Daud. Dua-duanya adalah orang pilihan Tuhan, dua-duanya adalah raja terhormat, dan dua-duanya sama-sama berbuat dosa yang besar, tetapi keduanya berbeda soal hati yang mau bertobat kepada Tuhan. Ketika Saul ditegur Samuel, ia masih berdalih 2x (15,20) dan tidak langsung mengaku salah. Berbeda dengan Daud, ketika ia berdosa dan ditegur oleh nabi Natan, ia bertobat kepada Tuhan dan tidak membela diri (2 Sam. 12:13). Tinggalkanlah dosa kita sepenuhnya! Joseph Exell mengatakan Amalek dapat diibaratkan sebagai dosa yang dibenci oleh Tuhan atau menjadi musuh Tuhan, tetapi Saul tidak menghabisi semuanya, malah menyisakannya.

We have here also a melancholy example of sparing sins and evils that should be slain, sheltering and harbouring them under false pretences, by unworthy pleas and excuses. The mark of a true man and Christian to allow no known sin, least of all favourite, profitable, accustomed, pleasant sins.” [5]

 Apakah kita sudah meninggalkan dosa yang Allah benci secara penuh? Langkah awal yang baik yang dapat kita lakukan di hadapan Tuhan adalah meminta ampun atas segala ketidaktaatan kita dan berkomitmen untuk sepenuh hati taat kepada-Nya.

2.Tingkatkan Spiritualitas, bukan hanya Religiusitas

Setelah kita bertobat dan memperbarui komitmen kita untuk taat akan panggilan-Nya, mari jalani spiritualitas Kristen yang baik, bukan hanya sekedar ritual keagamaan. Saul memberi alasan untuk mempersembahkan korbanlah ia membiarkan ternak-ternak Amalek hidup. Persembahan korban merupakan ritual yang baik, tetapi Tuhan tidak melihat persembahan itu jika hati orang yang mempersembahkannya tidak berpaut kepada-Nya. Menurut saya, Samuel juga menjadi kontras terhadap perilaku Saul. Samuel senantiasa taat akan panggilan dan perintah Tuhan. Ia dengan sepenuh hati menyampaikan dan menjalankan pesan Allah. Ia tidak takut ketika menegur Saul yang adalah raja dan Samuel mengerti benar bahwa yang diingini Allah adalah telinga yang mendengar dan hati yang taat (ay. 22). Inilah spiritualitas yang baik, yaitu mengikuti kemauan Ia yang memanggil kita. Kita seringkali terjebak dengan religiusitas yang kosong, terjebak dengan rutinitas tanpa isi dan tanpa kesungguhan hati. Kesibukan pelayanan dan pekerjaan membuat kita mengurangi waktu untuk dengar-dengaran kepada suara-Nya. Kita pikir semakin banyak melayani, semakin berkenan di hadapan Tuhan. Alkitab dibaca hanya sebagai kewajiban setiap minggunya, bukan sebagai pesan-Nya yang “merampas” hidup kita. Dan ketika kita tidak taat, maka dosa itu sama dengan dosa bertenung dan penyembahan berhala (ay. 23), karena memang jika tidak taat kepada-Nya, siapa lagi yang menjadi Allah kita? Mungkin juga inilah yang dimaksud Paulus ketika menasehati kita untuk mempersembahan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan, karena itulah ibadah yang sejati (Rm. 12:1). Penyangkalan diri dan ketaatan itu sulit, maka itulah waktu ketika kita “menyembelih” dan mempersembahkan tubuh kita kepada-Nya. Tanpa spiritualitas yang baik, sebenarnya kegiatan religius kita bukanlah untuk Tuhan yang sejati, tetapi kepada allah lain atau mungkin diri kita sendiri yang kita anggap sebagai “Allah”.

Kesimpulan:

Kita telah belajar dari Saul bahwa ketidaktaatan membawa akibat yang begitu serius, hati Tuhan dipertaruhkan. Ia berduka atas kebebalan kita dan Ia juga menuntut pertanggungjawaban dari kita terhadap panggilan-Nya yang telah Ia anugerahkan kepada kita. Ingatlah, panggilan-Nya benar-benar berharga dan mulia. Kita dipanggil untuk pekerjaan-Nya yang besar dan mulia, sama seperti Saul dipilih Tuhan untuk memimpin Israel, umat pilihan. Kiranya Roh Kudus menolong kita agar kita dapat bergumul meningkatkan spiritualitas yang baik, hati yang mau bertobat dan taat akan setiap perintah-Nya.


[1] Matthew Henry, Matthew Henry’s Whole Bible Commentary, 1706.

[2] Robert Jamieson, Fausset, and Brown, Commentary Critical and Explanatory on the Whole Bible, 1871.

[3] W.S. Lasor & D.A. Hubbard, Pengantar Perjanjian Lama, trans. Werner Tan dkk (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2019), 340.

[4] Matthew Henry, Matthew Henry’s Whole Bible Commentary, 1706.

[5] Joseph S. Exell, The Biblical Illustrator, 1849.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: