Memangnya Yesus Pernah Mengaku Dirinya adalah Tuhan?

Saya cukup banyak mendengar serangan dari pihak muslim mengenai Ke-Allah-an Yesus Kristus. Apologet seperti Zakir Naik, di dalam ceramahnya di berbagai tempat sering mengajukan tantangan ini kepada pihak Kristen, yaitu tantangan untuk membuktikan di mana ayat di dalam Injil, yang menulis bahwa Yesus sendiri pernah mengaku dirinya adalah Allah. Sami Zaatari di dalam debatnya dengan apologet Kristen, Sam Shamoun, juga meminta belasan kali supaya ditunjukkan ayat tersebut (https://www.youtube.com/watch?v=Wkd_-WiqrHo). Mengapa demikian? karena memang Islam tidak mengakui Yesus sebagai Allah, tetapi hanya sekedar sebagai nabi muslim, yang memberitakan tentang Islam dan kedatangan Muhammad. Bahkan Injil Kristen, sering diputar balik untuk menyatakan bahwa Yesus memberitakan kedatangan Muhammad, misalnya di dalam Yohanes 14-16 yang sebenarnya memberitakan tentang kedatangan Roh Kudus, tetapi diputar menjadi nubuatan tentang Muhammad. Islam sangat bermasalah mengenai pengakuan Kekristenan bahwa Yesus adalah Tuhan, karena mereka berpikir Tuhan orang Kristen menjadi 2, ditambah Roh Kudus menjadi 3. Ini sangat aneh bagi mereka. Konsep mereka mengenai “Tauhid”, yaitu Keesaan Allah, membuat mereka menentang konsep Tritunggal.

Biasanya muslim akan bertanya kepada kita mengenai hal tersebut dan meminta kita untuk membuktikan mana perkataan Yesus yang mengakui diri-Nya sendiri sebagai Allah. Memang kalimat “Aku adalah Allah/Tuhan” tidak pernah kita temukan di dalam Injil, tetapi bukan berarti kita tidak bisa membuktikan bahwa Yesus benar-benar adalah Allah. Kalian tidak perlu kuatir lagi, karena kita akan membahasnya, agar kalian dapat memberi jawaban terhadap hal tersebut.

Pernyataan eksplisit “akulah Allah” adalah tindakan bunuh diri pada zaman itu. Jika sekarang saya datang kepada saudara dan mengatakan “eh tau ga, gua ini sebenarnya Tuhan loh” atau “gua ini sebenarnya sama kayak Allah”, apa yang saudara akan katakan? Paling-paling saudara akan menganggap saya bercanda atau worst nya adalah saya gila kan? Tapi hal ini tidaklah berlaku di lingkungan Yahudi pada saat itu. Orang Israel sangat menghormati Allah YHWH, sehingga menyebut Nama-Nya pun sangat dihindari oleh mereka, karena takut melanggar⁰ hukum ke-3 dari Taurat. Nama Allah begitu kudus, sehingga tidak boleh disebut dengan sembarang. Oleh karena itu, mereka lebih sering menggunakan kata Adonai untuk memanggil Allah. Orang yang menyebut nama Allah dengan sembarangan, akan dituduh telah menghujat Allah, sehingga harus dihukum. Jangan heran ketika Yesus membuat klaim-klaim yang menyinggung tentang Ke-Ilahian-Nya sendiri, Ia sering ingin dirajam oleh orang-orang Yahudi (Luk.4:28-29; Yoh.8:59; 10:31). Nah, bisa bayangkan apa jadinya jika Yesus mengatakan dengan jelas “Aku adalah Allah”? Ga ngaku terang-terangan aja udah mau dibunuh! Dan sebenarnya tanpa pengakuan langsung tersebut, orang Yahudi sudah memahami bahwa apa-apa yang diklaim oleh Yesus adalah pengakuan bahwa diri-Nya adalah Allah. Hal ini dapat dilihat di dalam Yoh.10:33:

 “Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.”

Sudah jelas? Oleh karena orang Yahudi sudah mengerti klaim Yesus yang berhubungan dengan nubuatan Perjanjian Lama, maka mereka sudah langsung bisa menangkap bahwa yang dimaksudkan Yesus adalah bahwa Ia menyamakan diri-Nya dengan Allah. Perkataan seperti “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya (Mrk.13:26)” dan”Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit (Mrk.14:62), sudah sangat dipahami oleh orang Yahudi. Mengapa demikian? Karena ayat ini merujuk kepada nubuatan Daniel di dalam kitab Daniel 7:13

Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. 7:14 Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.

Jadi Yesus merujuk kepada ayat tersebut. Dan “Anak Manusia” disitu bukanlah anak manusia biasa, seperti yang kita pahami sehari-hari, tetapi Anak Manusia itu turun dari langit dan diberikan kuasa oleh Allah. Oleh karena itu, orang Yahudi ingin membunuhnya setelah mendengar klaim tersebut.

Tidak dikatakan, bukan berarti tidak ada. Pernyataan muslim “coba tunjukkan di mana ayat Yesus mengaku dirinya Allah. Tidak ada kan? nah berarti Yesus bukan Allah” adalah sangat lucu sekaligus aneh. Logikanya adalah hanya karena sesuatu tidak dikatakan atau tertulis, tidak berarti sesuatu itu tidak ada atau tidak benar. Saya tidak pernah mendengar dosen-dosen saya selama kuliah mengaku “saya adalah dosen kalian dan kalian harus nurut sama saya ya, karena saya dosen.” Pernyataan itu tidak perlu dikeluarkan dan dosen-dosen saya tetaplah seorang dosen! Jadi, jika Yesus tidak mengatakan Ia adalah Tuhan, itu tidak semata-mata membatalkan bahwa Ia adalah Allah, karena memang seperti yang sudah dibahas di poin pertama, bahwa tidak perlu mengaku secara eksplisit “Aku adalah Allah” tetapi hanya dengan merujuk diri kepada hal-hal yang berkaitan dengan nubuatan Perjanjian Lama, maka Yesus sudah dianggap menyamakan diri dengan Allah.

Percaya atau tidak, Ia sudah menyatakannya secara implisit dan juga eksplisit. Selain mengenai “Anak Manusia”, yang adalah diri-Nya sendiri, Yesus juga membuat beberapa pernyataan yang eksplisit dan juga implisit. Di dalam pembacaan Lukas 17:18, saya mendapati hal yang menurut saya aneh. Pada waktu itu ada 10 orang kusta yang datang kepada Yesus dan mereka semua diperintahkan pergi kepada para imam. Ketika di tengah jalan, mujizat terjadi dan mereka disembuhkan (14). Lalu dikatakan hanya 1 orang yang kembali kepada Yesus dan mengucap syukur (16). Melihat itu, Yesus bertanya kepadanya “bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir?… Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain daripada orang asing ini?” (17-18). Pertanyaannya adalah mengapa “memuliakan Allah” harus datang kepada Yesus? Bukankah posisi para imam sangat dekat dengan bait Allah? atau bahkan mungkin para imam sedang berada di bait Allah pada saat itu. Mengapa tidak memuliakan Allah di bait Allah saja? Hal ini berarti secara implisit, Yesus sebenarnya mengakui dirinya adalah Allah juga. Jika kalian masih bingung, coba baca berulang kali perikop tersebut dan coba pikirkan.

Mari kita lihat pernyataan Yesus yang sedikit lebih eksplisit. Di dalam Yohanes 8:58 dikisahkan Yesus sedang berdebat dengan orang-orang Yahudi dan mereka sampai kepada perdebatan mengenai Abraham, sosok yang sangat diagungkan oleh orang Yahudi. Dan di ayat tersebut dikatakan Yesus berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Setelah perkataan itu, orang-orang langsung mengambil batu untuk melempari Yesus (59). Mengapa mereka marah? Apakah karena Yesus mengatakan hal yang tidak masuk akal bahwa Ia mengaku satu zaman dengan Abraham yang hidup 2000 tahun sebelum zaman mereka itu? Bukan! Di dalam bahasa Indonesia, kita tidak terlalu dapat melihat makna kalimat tersebut, tetapi di dalam bahasa aslinya (Yunani) dan Inggris, barulah kita menemukan jawaban mengapa mereka semua begitu murka. Di dalam teks bahasa Inggris dikatakan “Very truly I tell you,” Jesus answered, “before Abraham was born, I am!” Kata kuncinya adalah I AM dan di dalam bahasa Yunaninya Ego Eimiἐγώ εἰμι. Aneh, seharusnya before Abraham was born, I WAS, tetapi mengapa I AM? Ingatkah kata tersebut merujuk pada kisah apa di dalam Perjanjian Lama? Tepat sekali! Kata tersebut merujuk kepada kisah panggilan Allah terhadap Musa di padang gurun dalam Keluaran 3:14.

Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus  aku kepadamu.”

Di dalam bahasa Inggris dikatakan I AM WHO I AM – Ehyeh Asher Ehyeh di dalam bahasa Ibrani. Sudah lihat mengapa orang Yahudi marah? Karena Yesus mengaku dirinya adalah I AM yang adalah Allah yang sama dengan yang memanggil hamba-Nya Musa! Tidak heran mereka semua menganggap Yesus menghujat Allah karena menyatakan diri-Nya sama dengan Allah.

Pernyataan Yesus yang terakhir ini, sangat eksplisit, yaitu di dalam Yohanes 13:13, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” Kata “Tuhan” di ayat ini dan di Perjanjian Baru menggunakan Kurios, yaitu sebutan untuk  “Tuan” atau “Pemilik” dan kata ini dipakai untuk Yesus Kristus sebagai  “Tuhan, Tuan dan Pemilik”. Sudah sangat eksplisit bukan? Mau bukti yang lebih jelas apalagi?

Sebenarnya masih sangat banyak pernyataan implisit dan eksplisit Yesus mengenai Ke-Allahan-Nya, belum lagi dukungan dari kesaksian para murid di dalam kitab atau kumpulan surat dari para rasul, termasuk Paulus. Yesus Kristus adalah Pribadi ke-2 dari Allah Tritunggal, bagi Kemuliaan Allah Bapa (Flp. 2:11). Amin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: