Filsafat untuk Anak-Anak

Sebelum tahun 1970, di Amerika dan Eropa, pelajaran philosophy atau yang sering disebut filsafat, hanya diterapkan untuk level mahasiswa atau di level sekolah menengah atas sebagai pengantar saja. Namun sejak 1970, seorang professor dari Columbia University mendirikan The Institute for the Advancement of Philosophy for Children (IAPC) yang secara formal bertempat di Montclair State University (Pritchard, 2013) dan menerapkannya kepada siswa K-12. Setelah penerapan tersebut, media dengan cepat melaporkan terjadinya peningkatan di dalam membaca dan critical thinking pada siswa. Kemudian secara bertahap IAPC mulai dikenal dan diterapkan juga di berbagai belahan dunia.

Meskipun sudah menyebar ke berbagai negara di Amerika dan Eropa, penerapan philosophy for children tersebut tidaklah lancar sepenuhnya begitu saja. Terdapat beberapa masalah yang menjadi concern dari berbagai kalangan. Paling tidak terdapat dua masalah pokok, yaitu: 1) anak yang tergolong pre-adolescent, belum dapat memikirkan hal-hal yang abstrak; 2) kurikulum yang telah dipakai sudah terlalu padat, sehingga sulit atau bahkan tidak mungkin memasukkan kegiatan atau materi tersebut.

Pembahasan

Menurut teori Piaget, anak di bawah umur 11 tahun atau sebelum masa operasional formal belum bisa diajak berpikir tentang sesuatu yang abstrak. Mereka akan lebih mengerti sesuatu apabila hal tersebut ditunjukkan dengan sesuatu yang konkret atau instrumen yang nyata (Gredler, 1997). Namun, bertentangan dengan teori tersebut, Garreth Matthew, seorang filsuf dan ahli pendidikan anak, berpendapat bahwa teori Piaget tersebut tampaknya meremehkan kemampuan anak, padahal selama ia berkecimpung dalam dunia pendidikan anak, ia menemukan banyak sekali anak-anak di bawah tahap operasional formal mampu untuk mempertanyakan berbagai pertanyaan yang abstrak (Pritchard, 2013). Seperti yang dikutip sebagai berikut:

Tim (about six years), while busily engaged in licking a pot, asked, “Papa, how can we be sure that everything is not a dream?… Jordan (five years), going to bed at eight one evening, asked, “If I go to bed at eight and get up at seven in the morning, how do I really know that the little hand of the clock has gone around only once? Do I have to stay up all night to watch it? If I look away even for a short time, maybe the small hand will go around twice.” (Pritchard, 2013)

Matthew juga melakukan beberapa percobaan, seperti memberi sebuah kasus dengan berbagai topik dalam kehidupan sehari-hari yang berkenaan dengan anak kepada murid-murid pre-adolescent dan ia menemukan bahwa mereka dapat dengan baik berdiskusi tentang kenyataan, mimpi, self-knowledge, keadilan, dsb.

            Masalah lain yang muncul adalah mengenai kurikulum yang sudah padat dan menyulitkan guru untuk penerapan philosophy kepada anak-anak. Para guru takut bahwa apabila diterapkan kegiatan diskusi-diskusi filosofis mengenai mata pelajaran yang sedang diajarkan, maka akan mengganggu konten pelajaran itu sendiri. Selain takut mengganggu kurikulum yang sudah dibuat, banyak guru juga tidak siap untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin saja muncul dari anak-anak yang diajarnya. Padahal penerapan philosophy for children dimaksudkan untuk mencapai sesuatu yang lebih dari sekedar konten pelajaran mengenai fakta-fakta, yaitu kemampuan critical thinking para murid.

Solusi dan Implementasi

Gary North, seorang Apologist (Pembela iman Kristen), dalam bukunya Is the World Running Down? (1988), menjelaskan suatu pemikiran dan metode yang sangat penting saat berdebat. Dia mengatakan bahwa jika kita berdebat dengan seseorang, jangan beri tahu dia sesuatu argumentasi yang benar kepada lawan debat kita, karena pasti akan bertengkar. Lawan debat kita membangun suatu argumentasi A dan kita juga membangun argumentasi B, jelas akan bertentangan. Yang sebaiknya dilakukan adalah jika lawan kita mengeluarkan sebuah argumentasi, kita buktikan kepadanya bahwa argumentasi yang dibangunnya itu tidak punya “kaki” atau dasar berpijak yang kuat, sehingga mudah runtuh (North, 1988).

Pemikiran seperti ini dapat diterapkan kepada anak-anak didik – Sekolah maupun di rumah – dengan cara lebih sering mempertanyakan tentang ‘mengapa’ dan mengajak mereka berpikir mengenai apa alasan dari tindakan yang mereka lakukan. Misalnya ada anak yang memukul temannya karena temannya mengganggunya, sebagai guru kita bisa menanyakan alasan tindakannya; “Kenapa kamu memukulnya?” atau “Kalau kamu jadi dia mau tidak dipukul hanya karena mengganggu temanmu?”. Dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu kita berusaha meruntuhkan pemikirannya, karena menurutnya adalah suatu kepantasan apabila saya diganggu maka harus dibalas dengan pukulan.

Filsafat dalam arti yang sesungguhnya adalah sebuah refleksi pemikiran dan juga diri sendiri untuk mempertanyakan berbagai hal. Dengan menciptakan kondisi seperti ini maka diharapkan dapat meningkatkan kemampuan anak dalam berpikir kritis mengenai hal-hal di luar dirinya maupun di dalam dirinya sendiri.

Kesimpulan

Philosophy for Children bukan berarti mengajarkan anak-anak murid pre-adolescent topik-topik filsafat yang kompleks seperti Hermeneutika, Metafisika, Ontologi, Idealisme, dan topik lainnya, melainkan hakekat dari filsafat itu sendiri, yaitu sebuah refleksi pemikiran mengenai segala sesuatu yang ada disekitar lingkungan anak, dan yang pasti berhubungan dengan pembelajaran. Dengan menerapkan philosophy for children diharapkan guru dapat membangun kelas menjadi sebuah komunitas di mana anak dapat bertanya, berpikir kritis, dan bertukar pikiran satu dengan lainnya.

REFERENSI

Gredler, M. E. (1997). Learning and Instruction. New Jersey: Macmillan Publishing Company.

North, G. (1988). Is the World Running Down? Texas: Institute for Christian Economics.

Pritchard, M. (2013, January). Philosophy for Children. Retrieved 2015, from Stanford.edu: http://plato.stanford.edu/entries/children.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: