Alfa & Omega

Kita tahu bahwa Yesus Kristus, beberapa kali di dalam kitab Wahyu, mengatakan bahwa dirinya adalah Alfa dan Omega – “Yang Awal dan Yang Akhir” (Why. 1:8; 21:6; 22:13). Apa artinya sebutan tersebut? Nah, bagi yang pernah mencicipi bahasa Yunani pasti tahu, bahwa Alfa dan Omega dengan simbol A (huruf besar) atau α (huruf kecil) dan Ω (huruf besar) atau ω (huruf kecil) adalah abjad pertama dan abjad terakhir dalam urutan urutan bahasa Yunani. By the way, bahasa Yunani sulit sekali loh, khususnya Yunani kuno, seperti mempelajari teks-teks kuno seperti Alkitab dan tulisan-tulisan filsafat dari zaman Sokrates dan seterusnya. Dosen saya mengatakan bahasa Yunani kira-kira 5x lebih sulit daripada bahasa Inggris dan 3x dari bahasa Jerman. Bagi yang mau lebih mengerti tentang kesulitan hidup ini, belajarlah bahasa Yunani!

Jadi apa maksud perkataan Yesus tersebut?  Ada 2 pembahasan yang akan saya uraikan dari perkataan tersebut:

Pertama, hal ini berarti adalah bahwa Yesus sudah jelas adalah ALLAH. Yesus adalah pribadi ke-2 dari Allah Tritunggal. Entah mengapa banyak sekali selama ribuan tahun sampai hari ini yang menentang Ketuhanan dari Yesus Kristus. Ia adalah Firman yang keluar dari Allah Bapa, sehingga memiliki natur yang sama dengan Bapa. Ia dikatakan lahir atau keluar dari Bapa, bukan diciptakan oleh Bapa, sehingga tidak heran disebut Anak Allah.  Karena memang apapun yang dilahirkan dari makhluk hidup atau pribadi akan memiliki natur yang sama dengan yang melahirkan. Kucing akan melahirkan anak kucing yang juga adalah kucing, manusia melahirkan anak manusia yang memiliki natur yang sama dengan yang melahirkan. Ciptaan tidak mungkin memiliki natur yang sama dengan yang menciptakannya. Ciptaan pasti lebih rendah daripada penciptanya. Tidak logis jika mengatakan ciptaan lebih hebat dari yang menciptakannya. Secangih-canggihnya robot, tidak mungkin lebih hebat dari yang membuatnya. Oleh karena itu, Yesus bukanlah ciptaan Bapa, seperti yang dituduhkan penganut bidat-bidat. Yesus adalah Firman yang keluar dari Bapa, sehingga Ia juga memiliki natur yang sama. Kok gitu aja repot? Mengapa para penyerang Kristen harus terus menerus mempermasalahkan soal ini sampai sekarang? That is really simple!

Nah, oleh karena Yesus juga adalah Allah, maka Ia pasti tidak memiliki awal dan akhir (Penjelasan lebih detail saya tulis di “Bagaimana Menjawab Pertanyaan Allah itu dari mana dan Siapa yang Menciptakan Allah”). Lalu mengapa Ia mengatakan bahwa Ia adalah awal dan akhir? Bukankah awal dan akhir menunjuk kepada urutan waktu? Bukankah Allah itu kekal adanya dan kekekalan tidak memiliki urutan waktu? Kata awal dan akhir di situ sebenarnya bukan menunjuk kepada kuantitas waktu seperti yang kita pahami sehari-hari. Otak kita adalah terbatas dan kita selalu memikirkan konsep waktu dalam cara berpikir waktu secara kronologis, sehingga kita sulit sekali memahami tentang kekekalan. Awal dan akhir lebih menunjuk kepada bahwa Yesus adalah yang memulai segala sesuatu. Perkataan serupa sudah pernah Yohanes tulis di dalam Injilnya, yaitu Yohanes 1:1, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Di sini dikatakan pula “pada mulanya”, jadi apakah maksudnya Yesus yang kekal memiliki permulaan? Ini memang sulit dimengerti dan kita tidak mungkin bisa memahaminya, mungkin sampai kita berada di kekekalan nanti dan bertanya sendiri kepada-Nya! Paling tidak, ini adalah cara Yohanes sebagai penulis, agar kita pembaca lebih mudah mengerti, untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah awal dari segala sesuatu dan Ia juga yang akan mengakhiri segala sesuatu. Ia tidak memerlukan sesuatu di luar diri-Nya untuk berada, karena Ia adalah yang mengawali segala sesuatu. Jadi, singkatnya Yesus ingin mengatakan bahwa Ia adalah Allah yang kekal, tidak terbatas ruang dan waktu, Penguasa, Yang berdaulat, yang telah memulai segala sesuatu dan akan mengakhiri segala pemerintahan, kuasa kegelapan, dan segala kehidupan yang ada di dunia. Ini sangat cocok dengan konteks di mana Yohanes menulisnya di dalam kitab Wahyu, kitab apokaliptik, penyataan tentang bagaimana dunia berjalan dan berakhir di tangan Kristus.

Berikutnya adalah apa implikasi perkataan tersebut bagi Kekristenan kita sekarang. Jika Ia adalah titik awal dan titik akhir dari segala sesuatu yang ada di dunia, maka sudah seharusnya di dalam hidup kita, Ia menjadi titik awal dan akhir dari segala perbuatan kita. Titik awal saya artikan sebagai motivasi, yaitu apa yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan dan titik akhir adalah tujuan dari tindakan tersebut. Coba cek hidup kita sebagai orang Kristen, apakah “titik awal” dan “titik akhir” kita? Apakah itu Kristus? Atau kesenangan, popularitas, dan nafsu pribadi kita? Apa tujuan anda bekerja? Kemuliaan-Nya atau supaya banyak uang dan sampai kepada financial freedom? (Tentang financial freedom saya sudah bahas di artikel lain berjudul “Memikirkan Financial Freedom Lebih Dalam”). Sayang sekali kebanyakan dari kita, ketika berbuat sesuatu, titik awal dan akhirnya bukanlah Kristus, tapi diri kita sendiri. Ingatlah, anda bukan alfa dan omega, tetapi anda hanyalah bagian dari yang memiliki awal dan diawali oleh Kristus. Kita semua memiliki awal dan akhir, yang artinya kita bergantung kepada sesuatu di luar kita untuk berada atau ber-eksistensi. Hanya Ia yang layak menjadi awal dan akhir dari segala sesuatu. Oleh karena itu, seluruh kehidupan kita juga harus dimulai dari Dia dan berakhir bagi kemuliaan-Nya. Saya ingat sekali fokus pelayanan yang selalu didengung-dengungkan di ibadah pemuda gereja saya sejak SMP, yaitu Kristus dan Jiwa-jiwa. Mengapa dan untuk apa anda menikah? Mengapa anda bekerja dan berbisnis? Untuk Kristus dan jiwa-jiwa?  Saya tidak mengatakan kita tidak perlu uang untuk hidup dan menghidupi keluarga, tetapi uang itupun juga harus ditujukan untuk kemuliaan-Nya bukan? Dengan keuangan yang baik, maka kita dapat memenuhi kebutuhan hidup dan keluarga dengan baik, serta lebih efektif bagi gereja dan sesama. Itupun semua bagi kesenangan Tuhan. Akan tetapi, jika pekerjaan kita fokusnya hanya uang dan itu semua untuk memuaskan keinginan kita, bukan untuk pekerjaan Tuhan, maka kita bersalah kepada Tuhan.

Mari di awal 2020 ini, kita berkomitmen untuk menjadikan Kristus sebagai Alfa dan Omega, titik “Yang awal dan Yang Akhir dari seluruh kehidupan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: