Anda Bebas?

Seorang anak muda berteriak “yes bebasss!!!” setelah mengetahui orang tuanya akan pergi ke luar kota selama beberapa 2-3 hari untuk urusan pekerjaan. Entah apa yang dipikirkan dan direncanakan oleh anak muda ini, mungkin ia mau bolos sekolah, lalu ke mall, nginep di rumah kos temannya, berjudi, clubbing, atau pacaran sampai larut malam tanpa ada yang menelepon menanyakan kabarnya, seperti yang orang tua nya lakukan selama ini. Benarkah ia bebas? Kita semua tahu, manusia ingin sekali memiliki kebebasan dalam segala hal. Keterbatasan membuat manusia resah, merasa terpenjara, kesal, marah, dan ia ingin melampaui keterbatasan hidupnya. Jika kita terbatas dalam keuangan, kita ingin punya uang banyak sehingga dapat membeli apapun yang tidak mampu kita miliki dalam keterbatasan tersebut. Ketika gadget terbaru seharga 12 juta mulai diiklankan, kita sedih karena uang di tabungan kita tidak cukup untuk membelinya. Akhirnya kita mau melampaui keterbatasan tersebut dengan menggunakan fasilitas cicilan 0% selama 12 bulan. Mungkin juga ketika kita bekerja di kantor, “terpenjara” di sebuah kubikel kecil dengan sebuah meja dan komputer, beserta tumpukan dokumen yang membuat stress, kita bosan dan ingin lebih bebas dengan cara membuka sebuah bisnis, sehingga ia tidak lagi terkungkung oleh ruang dan waktu yang sempit, yaitu kantornya dan jam kerja selama 8 jam setiap hari. Namun, ketika ingin membuka sebuah bisnis dan tidak memiliki modal, kita mulai ingin melampaui keterbatasan tersebut dengan berhutang kepada teman ataupun bank. Dan lewat bisnis tersebut, ia ingin bebas secara finansial.

Manusia selalu ingin keluar dari batas-batas tetapi sebenarnya berbenturan  dengan realitas. Anak muda yang masih single adalah orang yang sebenarnya bebas dalam konteks hubungan dengan lawan jenis. Ia bebas bergaul dengan siapa saja dan bebas memilih siapa saja untuk dijadikan pasangan hidup. Akan tetapi, ia mulai bosan, dan menginginkan punya pasangan hidup. Ia dengan sengaja membuat dirinya sendiri tidak bebas lagi. Ya tentu saja, setelah ia punya pasangan, maka ia sudah tidak bebas lagi untuk bergaul dengan lawan jenis, karena cintanya diikat oleh satu orang itu. Tetapi anehnya, ia merasa terkungkung lagi di dalam hubungan tersebut oleh norma-norma agama, masyarakat, dan juga orang tuanya sendiri. Selama pacaran mereka tidak boleh ciuman bibir, tidak boleh berduaan di ruangan tertutup atau tempat sepi, tidak boleh berhubungan seks, dan banyak peraturan lagi. Oleh karena itu, ia ingin bebas sekali lagi dengan melanggar norma-norma tersebut. Anehnya, ia juga sadar sebenarnya bahwa dengan melanggar batas “penjara” peraturan tersebut, ia akan dikirim lagi ke penjara sungguhan. Jadi, sebenarnya ia ingin bebas dari keterbatasan tersebut hanya untuk masuk ke dalam keterbatasan lainnya. Bukankah hal ini aneh? Bebas supaya tidak bebas.

Jadi sebenarnya apa itu “kebebasan”? Apa yang dimaksud dengan “bebas”? Adakah kebebasan yang mutlak? Apakah manusia benar-benar bisa mencapai kebebasan sepenuhnya? Jika orang ditanya mengenai apa itu kebebasan, mungkin secara cepat pada umumnya orang akan menjawab “bebas ya semau gue”, “boleh melakukan apa saja tanpa batas”, atau “tanpa larangan”. Benarkah demikian? Jika anda sedang jalan dan dengan merasa bebas untuk melakukan apa saja, lalu akhirnya memukul orang lain sampai bengkak. Dan orang tersebut membalas memukul anda kembali. Nah, di situ anda baru akan sadar bahwa kebebasan anda dibatasi oleh kebebasan orang lain. Sewaktu anda ingin parkir di jalanan, sebenarnya anda juga bebas memarkirkan kendaraan anda di mana saja, tetapi ketika mobil di belakang tiba-tiba mengklakson, maka anda juga baru sadar kebebasan parkir anda dibatasi oleh kebebasan orang lain untuk lewat jalan tersebut.

Masalah kebebasan bukanlah hal yang baru. Kita melihat banyak sekali perdebatan di sepanjang sejarah. Misalnya mengenai pertentangan antara Agustinus (354-430) dengan Pelagius pada abad ke-4 dan 5 mengenai predestinasi dan kehendak bebas manusia. Kemudian Thomas Aquinas (1225-1274) dengan Duns Scotus (1266-1308) di zaman Skolastik. Bergerak ke humanisme dan renaissance, di mana manusia ingin lepas dari irasionalitas agama yang “memenjarakan” kehidupan manusia. Selain itu, di masa zaman modern, masalah tersebut juga diangkat oleh Immanuel Kant (1724-1804) dan kemudian eksistensialisme Jean-Paul Sartre (1905-1980) yang ateis, yang mempermasalahkan kebebasan manusia yang dibatasi jika Allah ada. Karl Marx (1818-1883) ingin membebaskan manusia dari keterasingan akibat sistem kelas kapitalisme, yang malah pada prosesnya justru menjadi monster yang sangat menakutkan dan memakan puluhan juta manusia di tangan Lenin, Stalin, Mao Zedong, dan Polpot. Pada tahun 1960an, kita juga mengetahui gerakan kiri baru, yang dipelopori oleh Herbert Marcuse (1898-1979) yang terjadi di beberapa belahan dunia, di mana anak-anak muda tidak lagi mau dibatasi oleh sistem, agama, moralitas, atau apapun yang kelihatannya tradisional. Kaum hippies di Amerika menjadi simbol kebebasan manusia yang ingin melawan batas-batas norma, dengan seks, obat-obatan, penampilan, musik Rock, dsb. Tidak kalah hebatnya, kaum LGBT berkembang sangat pesat dan menjadi gerakan yang sangat mengerikan dalam waktu beberapa dekade ini. Buku Bisakah Anda Gay dan Kristen dari Dr. Michael L. Brown bisa menjadi informasi yang mungkin cukup untuk membuat lutut kita lemas mengetahui kaum LGBT yang sangat gencar menyerang agama, khususnya Kekristenan. Itukah kebebasan?

Perdebatan Thomas Aquinas dengan Duns Scotus sebenarnya cukup menarik pada zaman Skolastik. Scotus mengatakan bahwa manusia selalu punya kehendak bebas di dalam setiap tindakannya, tetapi Thomas menolak dengan mengatakan sebenarnya manusia tidaklah bebas, karena jika seseorang sampai menolak atau memilih sesuatu, itu disebabkan karena ia terikat kepada pilihan tersebut. Menurutnya, kehendak manusia selalu digerakkan oleh realitas dari luar dirinya. Saya sangat menyetujui hal ini, karena memang benar, kehendak dan tindakan kita selalu ditentukan oleh sesuatu. Saya berikan contoh. Jika anda belum punya Samsung Galaxy S10 dan ingin membelinya, maka pasti ada hal-hal yang menyebabkan anda memutuskan untuk datang ke toko untuk membelinya. Mungkin karena memang pekerjaanlah yang menuntut anda untuk punya sebuah smartphone yang terbaru dan canggih, atau mungkin karena anda melihat iklan HP tersebut di internet atau di tv, atau mungkin salah satu toko sedang ada promo cashback 30% yang menarik anda untuk punya HP tersebut dengan harga lebih murah dari toko lain, atau mungkin juga karena teman anda mengejek “hari gini belum punya upgrade HP?”. Ini membuktikan bahwa anda sebenarnya digerakkan sesuatu, yang entah apapun itu, yang mendorong anda untuk melakukan sesuatu. Mungkin anda akan mengatakan “ah nggak juga, buktinya godaan-godaan tersebut bisa saya hindari dan sampai hari ini saya ngga beli HP itu, berarti kan saya bebas”. Tunggu dulu, coba tanya, apa yang menjadi pertimbangan anda untuk tidak membeli HP itu? Karena belum punya uang? Karena sedang ada keperluan lain, sehingga uang 12 juta yang nganggur di rekening anda tidak bisa dipakai sementara? Berarti anda dibatasi juga toh oleh keuangan anda? Atau mungkin hati nurani anda berkata “jangan beli”? Atau orang tua anda yang melarangnya? Berarti anda sebenarnya tidak bebas kan? Keputusan anda selalu digerakkan atau dibatasi oleh sesuatu yang lain. Ketika anda berjalan di mall dan melihat baju bagus dan diskon pula, kemudian anda masuk ke toko itu dan membelinya, maka sebenarnya ada motivasi di balik keinginan anda untuk membelinya. Anda mungkin berpikir bajunya sedang diskon, murah, dan bagus. Atau anda bepikir  jika memakai baju ini, maka saya akan lebih, keren, fashionable dan kekinian. Maka anda sebenarnya sedang diikat juga! Jika anda sedang punya waktu luang 30 menit, anda memang bebas untuk memilih membaca buku atau buka Instagram dan ketika anda lebih memilih membuka instagram, sebenarnya anda sudah terikat olehnya.

Mengapa tidak suka dengan kata “terbatas”? Anak-anak muda ingin sekali menjadi bebas tanpa batas. Mereka mau punya banyak uang, mau seks sebelum menikah, tidak mau tunduk otoritas. Padahal batasan itu membuat keindahan. Pendeta Ivan Kristiono mengatakan, bahwa karena ada batasanlah sesuatu itu menjadi baik dan indah. Hidung manusia ada batasnya sehingga indah. Jika hidung kita tidak ada batasnya, maka repot jadinya. Karena ada garis batas antara daratan dan lautan, maka ada yang disebut pantai. Garis itu begitu indah dan baik, sehingga kita suka sekali berjalan di pantai. Orang yang melukis harus mengikuti batas-batas kanvas atau kertas tempat ia menggambar. Jika ia mau menggambar semua scene tanpa batas, maka di mana indahnya? Tata surya kita punya batas dan planet mengitari matahari sesuai orbitnya. Jika tidak, bumi dan kita mungkin sudah tinggal debu. Batasan itu membuat keindahan dan kebaikan. Pacaran memiliki batasannya. Keuangan anda harus ada batasnya, baik pemasukan dan juga pengeluaran. Peraturan-peraturan dari gereja, orang tua, sekolah, ataupun kantor harus ditaati. Dengan mengikuti batasan-batasan, maka hidup ini menjadi tertib dan menciptakan keteraturan yang baik.

Yesus mengatakan bahwa siapa yang berbuat dosa, dia adalah hamba dosa (Rm. 8:34). Ini memang benar. Tepat seperti yang Martin Luther (1483-1546) katakan mengenai The Bondage of will, bahwa kehendak manusia telah diikat oleh dosa dan tidak bebas lagi menentukan yang baik atau jahat. Manusia telah jatuh ke dalam dosa dan segala kecenderungan hatinya adalah berbuat dosa. Kelihatannya sih memang anda bebas untuk mau menerima tawaran merokok atau tidak. Akan tetapi, sebenarnya kehendak anda sedang diikat dan setelah anda memutuskan untuk merokok dan ingin lepas darinya, malah rokok tidak mau lepas dari anda. Ketika anda membuka situs porno, maka anda sedang mengikat diri kepada pornografi. Orang yang miskin terbatas oleh karena kurang uang dan ia memutuskan untuk bebas dari kemiskinan, lalu berjudi untuk dapat uang. Celakanya setelah ia dapat uang banyak, ia tidak bebas, tetapi malah terikat dengan judi, sampai ia jatuh miskin kembali. Jadi, kalau boleh dikatakan, sebenarnya kebebasan anda hanya ada di ranah “bebas untuk memutuskan anda mau diikat oleh apa atau siapa”. Tidak ada kebebasan mutlak! Oleh karena itu, pergunakanlah kebebasan memilih itu untuk diikat atau dibatasi oleh sesuatu yang mulia dan membawa anda kepada kehidupan sejati. Anda hanya bisa memilih mau terikat oleh Kristus atau Iblis. Di dalam Yohanes 8:32, Yesus mengatakan Kebenaran akan memerdekakan kita dan Kebenaran itu adalah Kristus sendiri. Ia memang mengatakan bahwa Ia datang untuk memerdekakan atau membebaskan anda dari dosa, tetapi bukan supaya anda bebas sebebas-bebasnya, dan sebagai konsekuensi logisnya, anda memindahkan diri anda untuk diikat oleh Kristus. Sekarang pilihan anda, apakah anda mau diikat oleh kebenaran atau dosa? Dosa memang menawarkan kenikmatan sementara dengan membuat anda berpikir bahwa anda “bebas mutlak” sebagai manusia, tidak ada Allah, tidak ada norma yang mengikat, tetapi percayalah bahwa itu adalah ikatan yang mematikan. Sebaliknya, Kebenaran pada mulanya seakan-akan mengikat anda, tetapi ikatan itu adalah ikatan yang akan membawa anda kepada kemuliaan hidup, baik ketika di dunia, maupun di kehidupan yang akan datang. Tidak ada kebebasan mutlak yang berdasarkan pada manusia sendiri, karena kehendak kita telah diikat oleh dosa.  Hanya di dalam Kristus anda akan menemukan “ikatan” dan sekaligus “kebebasan” yang sejati. Mengapa tidak menyerahkan “kebebasan” anda kepada-Nya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: