Bagaimana Seorang Kristen Meresponi Berbagai Peraturan yang “Abu-Abu”?

Sebagai orang Kristen, kita seringkali mengalami kesulitan, baik sebagai pelaku maupun dalam memberikan jawaban terhadap berbagai pertanyaan mengenai hal-hal yang tidak dilarang di dalam Alkitab atau Alkitab memang tidak secara terang-terangan memberi perintah yang spesifik terhadap beberapa peraturan yang umum di kehidupan kita. Beberapa contoh peraturan yang cukup sering menjadi perdebatan di kalangan orang Kristen selama ini, misalnya seperti apakah orang Kristen boleh membuat tatoo di tubuhnya? Apakah orang Kristen boleh minum bir?  apakah orang Kristen boleh mewarnai rambutnya dengan warna selain hitam? Apakah pria boleh pakai anting? Atau apakah kita boleh mendengar musik dunia atau nonton bioskop? Gereja yang tegas, selama ini melarang hal-hal tersebut. Pokoknya orang Kristen tidak boleh minum bir, jangan mewarnai rambut dengan warna aneh-aneh, tidak boleh menato tubuh, tidak boleh nonton bioskop, tidak boleh mendengar ataupun menyanyikan lagu dunia, dan bahkan saya pernah mendengar dulu pernah ada gereja yang melarang jemaatnya tidak boleh menonton televisi. Hal ini terjadi di dalam gereja saya sendiri. Baru-baru ini ada beberapa pengerja yang diskors pelayanan selama 1 bulan karena kedapatan minum bir dalam sebuah acara pernikahan. Tidak sedikit dari orang Kristen yang bertanya “kenapa tidak boleh?” Kenapa kalau minum anggur boleh, tetapi bir tidak boleh? Padahal sama-sama akan menyebabkan mabuk jika diminum berlebihan. Mengapa tidak boleh mendengar dan menyanyikan musik dunia, padahal lagu kebangsaan dan lagu daerah tidak jarang juga kita nyanyikan. Peraturan ini memang tidak mudah dijawab dan memang tidak jelas dilarang di dalam Alkitab, oleh karena itu saya sebut dengan peraturan yang “abu-abu”.

Pertama, kita harus mengerti bahwa di dalam kehidupan ini tidak semua permasalahan jawabannya hanya soal “hitam dan putih”. Saya ingin memakai konsep Derrida, seorang filsuf terkenal di abad 20, yaitu “dekonstruksi”. Memang kita menolak asumsi di belakang konsep itu, yaitu tidak adanya kebenaran yang obyektif dan harus menangguhkan kebenaran. Tetapi paling tidak konsep Derrida menunjukkan sebuah kematangan pemikiran dan memberikan pengertian kepada kita, bahwa kita tidak selalu dapat dengan sembarang berkata “ini benar dan harus diikuti” dan “ini salah, jangan lakukan”. Ada pemikiran dan penjelasan yang dalam khususnya ketika menghadapi yang “abu-abu” ini. Paling tidak ada dua poin untuk menjelaskan hal ini. Mari kita mengupasnya satu-persatu.

Memang di dalam Alkitab tidak terdapat peraturan yang jelas mengenai hal-hal yang khusus mengenai kasus-kasus tersebut, tetapi paling tidak Paulus memberikan prinsip yang universal untuk menghadapinya. Di dalam 1 Kor. 8:1-13, Paulus memberikan sebuah contoh kasus mengenai makan makanan persembahan berhala. Pada masa itu, jemaat Korintus seperti memiliki perdebatan mengenai makan makanan yang telah dipersembahkan di kuil-kuil allah di kota itu. Paulus mengatakan kepada orang-orang Korintus yang memang sudah mengerti Allah hanya ada satu dan berhala bukanlah allah melainkan roh jahat dan oleh karena itu memakan makanan persembahan berhala tidak akan berpengaruh apa-apa. Akan tetapi, tidak semua orang Kristen telah memiliki pengetahuan tersebut, sehingga jika mereka melihat saudara seiman lain makan persembahan berhala, mereka akan syak dan mungkin mereka akan menghakimi orang yang makan tersebut. Hal ini dihindari oleh Paulus. Ia meminta supaya orang-orang yang sudah mengerti lebih baik tidak memakannya daripada menjadi batu sandungan bagi yang belum mengerti. Lebih baik ia tidak makan daging persembahan selama-lamanya daripada ia harus menjadi batu sandungan bagi yang lain dan hal tersebut adalah dosa terhadap Tuhan (ay.11-13). Kisah ini memang konteksnya adalah mengenai persembahan berhala, tetapi prinsip atau esensinya dapat kita pakai untuk menjelaskan kasus-kasus yang “abu-abu”. Kita tidak bisa mengharapkan semua orang memiliki penilaian atau pengetahuan yang sama dengan kita. Bagi sebagian orang Kristen minum bir, cat rambut, tato, memakai anting (bagi yang pria) atau yang wanita memakai rok atau celana di atas lutut sudah menjadi atau menimbulkan image yang negatif. Pokoknya bagi mereka, jika ada orang yang melakukan hal-hal tersebut, penilaiannya adalah pasti orang itu bukanlah orang yang baik, preman, duniawi, dll. Image ini tidak bisa dihindarkan, karena memang orang selalu memakai “kacamata” ketika melihat sekitarnya, yaitu seperangkat presuposisi atau asumsi dasar, terlepas dari asumsi itu benar atau tidak. Jadi, ketika mereka melihat kita melakukan hal-hal tersebut, tidak heran mereka akan syak dan menghakimi kita. Berdasarkan pesan Paulus terhadap jemaat Korintus tersebut, maka lebih baik kita tidak melakukan hal-hal itu, karena dengan melakukan demikian kita akan melukai hati nurani mereka yang lemah.

Beberapa orang mungkin tidak setuju bahwa ketika melihat orang bertato, pakai anting, atau rambutnya warna-warni seperti lampu lalu lintas, kita langsung “mencap” mereka sebagai orang yang tidak baik. Tetapi coba kita pikirkan apabila hal itu terjadi di dalam kehidupan kita. Andai kata kalian punya adik perempuan atau nanti kalian sebagai orang tua yang memiliki anak perempuan dan adik atau anak kalian mengenalkan seorang pria calon pasangannya yang memakai anting dan bertato, atau sebaliknya jika anak pria kalian membawa seorang wanita pasangannya yang rambutnya hijau atau pink dan memakai baju you can see dan celana yang super pendek, apa penilaian kalian? Apakah kalian akan setuju adik atau anak kalian dekat dengan teman yang seperti itu? Atau apakah kalian membuat penilaian dan menasehati mereka untuk memikirkan 100 kali untuk memiliki pasangan yang seperti itu? Saya yakin jika kalian adalah orang tua yang baik, kalian tidak akan segera menyetujui hubungan mereka! Saya tidak mengatakan bahwa yang bertato sudah pasti orang jahat. Mungkin saja ia sudah bertobat dan memang tato nya adalah permanen, tetapi mari kita lebih memikirkan hal ini. Jadi, jika hal yang kita lakukan akan menjadi batu sandungan bagi saudara kita, maka kita telah berdosa kepada Kristus dan juga saudara kita, karena kita juga membuat mereka berdosa dengan menghakimi kita.

Setelah pertimbangan apakah yang kita lakukan menjadi batu sandungan atau tidak, berikutnya adalah pertimbangan hati atau motivasi. Seringkali yang salah bukanlah bendanya, tetapi hati kita terhadap benda tersebut. Uang tidak salah, tetapi cinta akan uang yang bermasalah dan dosa (1 Tim. 6:10). Tindakan-tindakan yang sulit dinilai berdasarkan hukum tertulis, dapat dinilai dari hati. Kita sudah tahu bahwa fokus kita sebagai orang Kristen adalah Kristus dan jiwa-jiwa. Apapun yang fokusnya adalah diri sendiri seringkali merupakan penyimpangan di mata Allah. Untuk apa membuat tato di tangan? Beberapa orang mungkin menjawab “supaya saya kelihatan keren”, “supaya saya kelihatan macho”, “supaya saya diterima oleh teman-teman sepergaulan”. Mengapa mewarnai rambut? “supaya saya kelihatan modis”, “supaya saya ikut trend”. Mengapa pakai celana yang di atas lutut? Mengapa minum bir? Mengapa merokok? Semuanya adalah saya dan saya, fokusnya adalah diri sendiri. Orang yang seperti ini tanpa sadar adalah orang yang egois. Tanpa memperhatikan pandangan orang lain dan menjaga supaya tidak menjadi batu sandungan bagi saudaranya, malahan menuntut orang lain memperhatikan dan menghargainya. Ini tentu adalah kekeliruan di mata Allah. Segala sesuatu yang bukan untuk Kristus dan jiwa-jiwa, lebih baik dicoret saja. Beli handphone yang cukup bagus fokusnya harus untuk memperlengkapi dan memudahkan kita dalam pekerjaan Tuhan, bukan supaya dihargai orang. Berkuliah supaya kita semakin maksimal untuk pekerjaan Tuhan dan berguna bagi masyarakat. Hati kita harus benar dihadapan Allah. Jika tindakan-tindakan “abu-abu” tadi hanya untuk memuaskan kita semata, maka lebih baik tidak perlu dilakukan.

Oleh karena itu, orang Kristen harus semakin peka dan terus memikirkan setiap tindakan-tindakan kita, apakah ini bertentangan dengan budaya atau norma-norma di sekitar lingkungan gereja kita, sehingga akan menjadi batu sandungan dan apakah ini untuk diri sendiri atau kemuliaan Tuhan dan jiwa-jiwa? Slogan “WWJD” (What Would Jesus Do) harus terus kita renungkan, apakah jika Yesus menjadi saya, Ia akan membuat tato di lengannya? Apakah Ia akan minum bir? Apakah Ia akan memakai pakaian yang tidak sopan? Ia akan pakai anting? Selalu tanyakan ini pada diri anda!

2 thoughts on “Bagaimana Seorang Kristen Meresponi Berbagai Peraturan yang “Abu-Abu”?

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: