Model Integrasi Alkitab Dalam Pendidikan Kristen Menurut Bryan Smith, Martha MacCullough, dan John W. Taylor

Melengkapi tulisan saya mengenai integrasi Alkitab dalam pendidikan Kristen, maka berikut ini saya menuliskan beberapa model integrasi Alkitab menurut beberapa ahli pendidikan Kristen, yang dibagi berdasarkan tahapan-tahapan maupun indikator-indikator yang dapat dipakai untuk menerapkan integrasi Alkitab dalam subjek pelajaran dan juga untuk mengevaluasi penerapannya.

Model Bryan Smith

Bryan Smith adalah seorang pakar pendidikan Kristen dari Bob Jones University. Smith membagi penerapan integrasi Alkitab dalam pelajaran ke dalam 4 tahap:

  1. Tahapan 0: Relegating the Bible

Pada tahap ini, guru atau pendidik belum mengintegrasikan pandangan Alkitab dengan subjek pelajaran yang diajarkan. Mereka sudah mulai mengutip beberapa ayat Alkitab, namun masih terlepas atau tidak punya hubungan yang signifikan dengan topik pelajaran. Bryan juga mengatakan, sekolah mungkin saja sudah menerapkan doa sebelum dan sesudah aktivitas pembelajaran, renungan/devosi sudah dilakukan, tetapi ini tidak cukup membawa peserta didik untuk memiliki Christian worldview dalam subjek yang mereka pelajari.

  1. Tahapan 1: Referencing the Bible

Pada tahap 1, ayat-ayat atau perspektif Alkitab sudah menjadi referensi untuk subjek yang diajarkan. Pendidik membawanya bersama-sama. Terdapat dua jenis tahapan di dalam bagian referencing the Bible ini. Pertama, menggunakan analogi Alkitabiah. Bryan menjelaskan, bahwa guru mencoba memberi gambaran/analogi dari academic matters untuk menggambarkan sebuah bahasan dalam Alkitab, misalnya; guru Matematika mengambil contoh sebuah lingkaran untuk menggambarkan kasih Allah yang tidak berujung; guru Science membahas proses metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu untuk menggambarkan proses  pertumbuhan kehidupan orang Kristen.

Pada satu sisi, kisah-kisah Alkitabiah sudah dibawa bersamaan dengan pembelajaran, namun di sisi lain penggunaan analogi ini memiliki masalah dengan relevansi. Analogi yang digunakan memang berhubungan dengan subjek pelajaran, tapi bukan bagian dari pelajaran itu sendiri. Bryan mengatakan, penggunaan analogi tersebut tidak sesuai dengan objectives pelajaran dan juga tidak membawa peserta didik memahami konsep creation mandate, serta bagaimana seharusnya mereka hidup dengan konsep penebusan dalam dunia yang berdosa ini.

  1. Tahapan 2: Responding with the Bible

Berbeda dengan tahapan 1, pada tahap ini, guru mulai mengajarkan peserta didik bagaimana Alkitab menuntun mereka untuk menerapkan pembelajaran ke dalam kehidupan mereka sehari-hari. Guru membantu murid untuk menaati creation mandate dan mengasihi sesama mereka. Seorang guru sains dapat mengajarkan muridnya pada penggunaan energi yang ramah lingkungan. Seorang guru literatur dapat mengajarkan muridnya membuat puisi untuk menolong manusia berhadapan dengan kenyataan setelah kematian. Guru juga dapat membawa para peserta didik untuk menyatakan pengagungannya kepada Allah, seperti mengajarkan tentang keindahan langit, bintang-bintang, dan alam semesta yang begitu luas yang menyatakan kemahakuasaan Allah yang begitu besar. Oleh karena itu, pendekatan ini akan lebih efektif apabila pembelajaran dikaitkan dengan keseharian hidup peserta didik. Namun demikian guru tidak dapat mengharapkan referensi tentang mandat penciptaan atau memuliakan Tuhan secara eksplisit dalam keseharian pembelajaran.

  1. Tahapan 3: Rebuilding with the Bible

Pendekatan ini membangun kembali ground motive dari subjek pelajaran yang sekuler dalam kerangka dan perspektif Alkitab. Kejatuhan manusia ke dalam dosa menyebabkan akal budi dan aktivitasnya tercemar, serta sekularisasi subjek pelajaran yang diberikan. Bryan membagi tahapan ini menjadi dua langkah, namun dalam satu proses. Langkah pertama berkenaan dengan apa yang ia sebut questioning the assumptions. Mengingat peserta didik telah jatuh ke dalam dosa dan tercemar, maka guru mulai mempertanyakan atau menguji asumsi-asumsi dari setiap subjek pelajaran. Pertanyaan-pertanyaan yang digunakan berkaitan dengan perbandingan antara entitas religius dan sekuler berkaitan dengan kebenaran, pengetahuan, iman, dan akal budi.

Langkah kedua setelah memberikan dan mempertanyakan asumsi tersebut adalah rebuilding the discipline, yaitu guru berupaya mengembalikan dan menguduskan pikiran sekuler para muridnya ke subjek akademik dengan presuposisi kerangka Alkitabiah. Guru dapat memberikan jawaban atas pertanyaan mengenai kebenaran, bahwa kebenaran yang objektif, dalam beberapa cara, memang tidak dapat dicapai, tapi bukan berarti tidak ada. Manusia adalah terbatas dan telah berdosa, sehingga tidak mampu mengenal dan mencapai kesucian seperti yang dikehendaki Allah. Namun, Allah sendiri berinisiatif menyingkapkan diri-Nya, yang adalah kebenaran itu sendiri melalui Kristus dan Alkitab. Maka ketika manusia bersedia menundukkan dirinya kepada Allah, mereka akan mampu melihat dan mengerti apa yang Allah ingin mereka mengerti.

Integrasi iman dalam subjek pelajaran harus dapat membawa subjek tersebut dalam kerangka konsep creation, fall, redemption, dan consummation yang menjadi ide sentral dalam iman Kristen. Kemudian, ide ini dilanjutkan dengan penjelasan kedalaman hati manusia dan keluasan ciptaan Tuhan di dalam berbagai aspek realitas ciptaan tersebut. Intergrasi antara iman dan ilmu tersebut dapat diterapkan dari keteladanan sebagai seorang guru, isi  kurikulum, budaya dan kebijakan sekolah. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang matang dan juga kesungguhan hati dari pihak pendidik untuk penerapan integrasi dalam pembelajaran.

Model Martha MacCullough             

Martha MacCullough adalah seorang pengajar integrasi Alkitab, filsafat pendidikan, psikologi pendidikan, teori pembelajaran, dan berbagai variasi pembelajaran dari Philadelphia College of Biblical Graduate School, Cairn University. Sebelumnya MacCullough telah mengajar di sekolah dasar dan menengah selama 15 tahun, serta banyak mendukung berbagai kegiatan dan juga pengembangan kurikulum. Martha menyebutkan bahwa integrasi Alkitab dapat merupakan integrasi berjenis subject to subject, subject to life, dan subject to worldview. Dalam bahasan integrasi di dalam pembelajaran, MacCullough juga membaginya menjadi tiga model, yaitu model interpersonal, model paralel, dan model inti terintegrasi.

  • Model Interpersonal

Pada model ini, guru dapat menghubungkan sendiri nilai-nilai atau perspektif Alkitab dengan subjek pelajaran yang diajarkan. Namun, model seperti ini bukanlah model yang ideal untuk institusi pendidikan Kristen. Integrasi Alkitab serta penerapannya perlu direncanakan dengan baik di dalam sebuah desain kurikulum, bukan semata-mata bergantung kepada guru Kristen yang berhasil menempelkan seperangkat nilai pada pembelajaran.

  • Model Paralel

Model paralel menggambarkan adanya hubungan yang paralel antara dua subjek pelajaran yang pemahamannya berjalan beriringan. Dua subjek ini dipahami seperti dua garis yang tidak pernah bersinggungan satu sama lain, yaitu prinsip Alkitab dan pengetahuan sekuler, rasio dan iman, pengetahuan publik dan spesifik, serta wahyu khusus dan wahyu umum. Namun, dalam pemahaman ini dapat memberi penyimpangan, yaitu bahwa di dalam perspektif iman tidak ada dua hal yang terpisah seperti yang rohani dengan sekuler ataupun iman dengan rasio. Hal-hal tersebut adalah satu kesatuan, karena semua kebenaran adalah kebenaran Allah. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk membawa hal-hal tersebut ke dalam satu-kesatuan integrasi.

  • Model Inti Terintegrasi

Dalam model ini, setiap bahasan dimulai dari keutuhan dan kesatuan presuposisi Kristen tentang dunia dan keseharian hidup. Guru harus bergerak dari pandangan utuh mengenai Christian Worldview, setelah itu bergerak mengarah pada pengetahuan baru yang akan diajarkan, dengan mencari natur keilmuan secara alamiah membawanya dalam gabungan, korelasi, dan ketetapan dalam kebenaran firman Tuhan. Model inti terintegrasi ini membawa suatu keutuhan mengarah pada pengetahuan, berlanjut pada keahlian dan sikap dalam berbagai subjek pelajaran. Sikap dan keahlian ini kemudian direfleksikan sampai mendapatkan subjek pelajaran yang terintegrasi dengan Alkitab. MacCullough menjelaskan bahwa model ini sebagai dasar yang dapat digunakan untuk mengembangkan keutuhan pembelajaran peserta didik.

                                                  Gambar 1 Model Inti Terintegrasi

                                                   Model

 

Model John W. Taylor

John Wesyley Taylor adalah seorang pakar pendidikan yang telah berkontribusi dalam dunia pendidikan lewat seminar, disertasi, dan penelitian jurnal-jurnal pendidikannya. Taylor lahir di Puerto Rico dan telah melayani sebagai pendidik dan juga administrator pendidikan di berbagai institusi pendidikan, seperti Montemorelos University (Mexico), The Adventist International institute of Advanced Studies (Philippines), Andrews University dan Southern Adventist University (USA).

Mengenai penerapan integrasi Alkitab dalam pendidikan Kristen, di dalam jurnalnya yang berjudul Instructional Strategies for Integrating Faith and Learning, Taylor membangun sebuah model integrasi yang cukup detail dengan membaginya ke dalam beberapa fase dan juga strategi. Fase-fase tersebut terdiri dari fase isolasi, fase dialog, fase interaksi, dan fase integrasi. Strategi-strategi dalam integrasi iman dan pembelajaran diklasifikasikannya ke dalam empat kategori yang lebih luas, yaitu contextual, illustrative, conceptual, dan experential.

  • Fase Isolasi

Pada fase isolasi, pembelajaran yang berhubungan dengan kekristenan dilakukan terpisah atau memiliki mata pelajarannya sendiri seperti pelajaran lainnya. Kehidupan iman murid dilakukan dalam bentuk pelajaran agama (Bible Classes, Worldview), ekstrakurikuler, ataupun weekend religious function. Pembelajaran kehidupan kekristenan diarahkan dalam bentuk academic subject, sama halnya seperti matematika, sains, sejarah, dan lainnya. Penerapan seperti ini dapat mengakibatkan disintegrasi antara iman dan pengetahuan, sehingga sangat mungkin iman para peserta didik tidak memiliki arah atau tujuan yang jelas.

  • Fase Dialog

Fase ini merupakan fase pertukaran penjelasan iman pada pembelajaran dan sebaliknya. Pada fase ini guru membutuhkan landasan firman Tuhan untuk menjelaskan berbagai subjek pelajaran dan juga menjelaskan berbagai fenomena keilmuan dari sudut pandang kebenaran firman Tuhan. Oleh karena itu, guru bukan sekedar menolak berbagai statement yang muncul dari bagian pengetahuan atau bagian buku saja, tapi juga dapat menjelaskan mengapa menolaknya dengan argumentasi Alkitab. Jadi, dialog antara iman dan pembelajaran mulai terjadi pada fase ini, namun bila pertukaran terjadi dalam waktu singkat, interaksi sulit tercapai sehingga tidak memungkinkan terjadinya eksplorasi akan pemahaman iman dan ilmu.

  • Fase Interaksi

Taylor menjelaskan, ketika guru dan murid mulai masuk untuk membahas iman dan pembelajaran dengan lebih dalam. Peleburan antara penjelasan iman dan ilmu sudah terjadi, walaupun belum secara keseluruhan. Subjek-subjek pelajaran sudah dibahas dengan firman Tuhan, seperti menghadirkan perspektif penciptaan ketika berhadapan dengan pembahasan mengenai the origins of life, kemudian analisa mengenai Teokrasi (Sistem pemerintahan di mana Allah sebagai pusatnya) ketika membahas pemerintahan, memasukkan beberapa nubuatan Alkitab yang relevan mengenai kerajaan atau negara-negara yang pernah ataupun sedang berkuasa (Daniel 2:31-33; kisah Daniel yang mengartikan mimpi Nebukadnezar mengenai bagian patung yang menubuatkan pemerintahan Babel, Persia, Yunani, Roma, dan negara yang kemudian), dsb.

  • Fase Integrasi

Fase ini merupakan fase peleburan lingkaran iman dan lingkaran pembelajaran yang menyatu dalam penerapan Christian Education. Kehidupan pembelajaran dimulai ketika iman bekerja dalam kehidupan pembelajaran tersebut. Hal ini mengimplikasikan bahwa dimanapun pembelajaran dilaksanakan, iman peserta didik harus dilatih melalui usaha untuk melihat seluruh kehidupan ini dengan perspektif Allah, sehingga tidak cukup sampai kepada memahami, tapi mereka harus mengalami pertumbuhan secara terus menerus di dalam kebenaran.

                                             Gambar 2 Fase Penerapan Integrasi Alkitab

                                                                gambar

 

Selain pembagian fase-fase penerapan integrasi, Taylor juga mengklasifikasikan strategi-strategi penerapannya, seperti yang terdapat pada tabel di bawah ini:

                                                Tabel 1 Model Integrasi John W. Taylor

Kategori Strategi
1.      Kontekstual

2.      Ilustratif

3.      Konseptual

Taktikal, Ornamental, Environmental

Analogi, Naratif, Exemplary

Tekstual, Tematik, Nilai

  1. Kategori Kontekstual

Berupa kategori yang masih dalam tataran praktik religiositas, yang terdiri dari:

  • Taktikal

Wujud ini dapat berupa penamaan, artefak kekristenan, peraturan, dan prosedur. Nama sekolah yang menempelkan atribut-atribut Kristen sudah merupakan taktik, yang memperjelas keberadaan sekolah Kristen. Pernyataan resmi dari misi sekolah seperti “redemptive”, “holistic”, “preparing students for eternal life”, berimplikasi pada pelaksanaan pendidikan di sekolah, perekrutan guru-guru Kristen, dan peraturan-peraturan dalam pelaksanaan pendidikan Kristen (Taylor, 2001). Hal ini sudah pasti membawa nilai pada pembentukan karakter, etis, moral, dan pemberitaan iman, dalam mengaitkan dimensi spiritual dalam program-program akademis. Walaupun tidak cukup, namun tactical evidence dibutuhkan dalam integrasi iman dan pembelajaran.

  • Ornamental

           Ornamental adalah salah satu strategi untuk mengintegrasikan iman dan pembelajaran dalam upaya peningkatan spiritual pendidikan. Sekolah mencoba menempelkan potongan-potongan ayat Alkitab di beberapa bagian tempat. Bulletin-board  yang menarik dipasang untuk menampilkan topik-topik kekristenan, dan lukisan-lukisan Yesus dan tokoh-tokoh Alkitab lain dipasang pada dinding-dinding kelas. Bagian strategi ini cukup baik untuk mengingatkan murid-murid pada religiusitasnya, namun belum berhubungan langsung dengan konteks materi pembelajaran.

  • Environmental

Strategi ini merupakan strategi yang baik dalam membuat lingkungan pengajaran antara iman dan pembelajaran yang sebelumnya terpisah menjadi terjalin. Environmental merupakan bagian hidden curriculum; organisasi sekolah, classroom structure, interaksi antara murid-guru dan murid-murid, dsb. Faktor-faktor yang mempengaruhi environmental ini antara lain; gaya kepemimpinan, metode pendisiplinan, dan sistem manajemen kelas. Apakah dalam proses pendisiplinan pelaksanaan prosedur disiplin lebih dominan bersifat hukuman (punitive) atau disiplin dengan tujuan memperbaiki kesalahan dan memberikan pengampunan (redemptive)? Apakah penilaian memberi manfaat bagi sekolah, guru, dan murid? Bagaimana academic tone dalam kelas mampu memberikan kenyamanan, kasih, atau malah kelas yang menebarkan ketakutan.

       2. Kategori Ilustratif

Di dalam pelayanan Tuhan Yesus, ketika Ia mengajar, banyak sekali menggunakan ilustrasi atau perumpamaan untuk mengaitkannya dengan kebenaran iman. Setelah Yesus naik ke Surga, murid-muridnya (Para rasul) juga menggunakan pendekatan yang mirip dengan metafora seperti kata-kata cermin, gelombang laut, pencuri, anggota tubuh, dll. Kategori ilustratif dapat mencakup:

  • Analog

Merupakan Salah satu strategi dalam integrasi iman dan pembelajaran yang mencari pendekatan replika. Beberapa perumpamaan seperti “God is like a circle – He has no end” atau “Two and two are always four – God never changes” mungkin dapat membantu peserta didik untuk lebih mudah menangkap inti pembelajaran. Namun, di sisi lain, pendidik harus berhati-hati dalam menggunakan analogi-analogi tersebut, karena penggunaan yang di luar konteks atau tidak tepat, dapat mengarah kepada ketidaktepatan atau bahkan kesesatan konsep Teologis. Penggunaan analogi perubahan air untuk menggambarkan konsep trinitas Allah juga dapat mengarah kepada kesalahan. Konsep Allah tritunggal adalah Allah yang memiliki tiga pribadi tetapi tetap satu being, yaitu Allah yang Esa.

  • Naratif

Strategi naratif merupakan bagian lain dari ilustratif. Strategi ini menggunakan ilustrasi yang lebih panjang dibandingkan analogi. Murid diminta untuk mencari contoh-contoh khusus dari kisah-kisah Alkitab yang berhubungan dengan topik yang akan dipelajari, misalnya perumpamaan tentang talenta (Matius 25) ketika mempelajari topik investasi bisnis, menggunakan kisah dewan Yerusalem ketika berbicara mengenai perbedaan budaya, kemudian dapat juga menggunakan kisah Petrus dan Paulus ketika membahas mengenai resolusi konflik. Guru juga dapat menceritakan tentang pengalaman guru yang berkaitan dengan moral, kisah anak-anak Tuhan, atau kisah tokoh-tokoh di luar Alkitab seperti Mother Teresa, Thomas Alfa Edison, Isaac Newton, dan lain sebagainya.

  • Exemplary

Strategi ini merupakan strategi ilustratif yang menggunakan model untuk menginspirasi dan memberi motivasi kehidupan murid untuk mencapai tujuan hidupnya. Model dapat menjadi rujukan dalam keseharian yang diperagakan dalam hidup seseorang. Dalam hal ini, murid harus dapat melihat dari dalam hidup gurunya sebuah kehausan akan pengetahuan dan komitmen dalam mencari dan juga membagikan perspektif rohani dalam subjek pelajaran yang dibahas. Seperti yang dikatakan oleh Taylor (2001) sendiri:

     “Students, for instance, must see in Christian teachers a thirst of knowledge and commitment to finding and sharing spiritual perspectives on the subject area. Students need to perceive the teacher’s trust in God, in His plan, and His revelation…

Taylor mengatakan, murid cenderung lebih tertarik pada apa yang telah guru “lakukan” daripada apa yang guru “katakan”. Mereka perlu mendapatkan kesaksian akan guru Kristen yang mempercayakan hidupnya pada Tuhan dan mereka dapat merasakan penyertaan Tuhan pada setiap gurunya ketika menghadapi berbagai pergumulan hidup dan keadaanya sekarang dalam kasih karunia Tuhan.

     3. Kategori Konseptual

Kategori konseptual menempatkan metode instruksional sebagai pusat dari proses integrasi. Kategori ini terdiri dari beberapa strategi:

  • Tekstual

Strategi tekstual digunakan untuk mengidentifikasi bagian dalam Alkitab (ajaran, pasal, ayat) yang berkaitan dengan topik pembelajaran atau pengalaman belajar. Secara tradisional, guru memulai kelasnya dengan doa dan renungan firman Tuhan secara singkat. Kegiatan awal ini menjadi sangat bermakna, karena renungan pasal Alkitab tersebut berhubungan atau berkaitan langsung dengan topik pembelajaran yang akan diajarkan. Dalam memberikan catatan pada teks, guru memberikan bantuan kepada muridnya untuk memahami hubungan firman Tuhan dan teks. Penggunaan firman Tuhan yang tepat saat pembelajaran, dilakukan dengan mengidentifikasi konsep yang diajarkan dengan bagian Alkitab yang sesuai dengan ide kunci pembelajaran. Sebagai contoh; topik utama pembelajaran mengenai kuasa dan otoritas (Roma 13:1), nasionalisme (Kis. 22:25, Fil. 3:20), keadilan (Mikha 6:8), damai (Yoh. 16:33), dan lain sebagainya.

  • Tematik

Taylor mengatakan strategi ini merupakan strategi yang efektif untuk mengintegrasikan iman dan pembelajaran. Tema-tema dalam setiap subjek pelajaran dipetakan dalam tema-tema kecil. Mereka menetapkan tujuan yang umum dan khusus dalam judul dari unit dan daftar dari konsep inti, serta kata-kata kunci. Para pendidik dapat menggunakan pembagian tema-tema tersebut untuk dilihat dari perspektif Kristen oleh para peserta didik. Hal ini dapat berarti, setiap tema dilihat dalam kontroversinya antara baik dan jahat dan mandat injil. Tema-tema tersebut dihubungkan dengan rencana ilahi atas kehidupan manusia. Penerapan ini akan membantu peserta didik untuk menemukan perspektif kerohanian dan mengembangkan Christian attitudes. Strategi ini dapat menolong peserta didik untuk membentuk Christian worldview yang meliputi berbagai topik.

Contoh:

  • Di dalam matematika, pembagian tema-tema kecil seperti akurasi, keseimbangan, perbandingan, pengukuran, positif dan negatif, dsb.
  • Di dalam bahasa, pembagian tema-tema kecil seperti tentang peneliti, karakter, metafora, natur manusia, moral, interaksi, keunikan, dsb.
  • Nilai (Valuatif)

Strategi nilai merupakan strategi yang berfokus pada subjek pelajaran yang relevan dan juga berkaitan dengan nilai. Plagiarisme, misalnya, mempunyai relevansi di dalam arts, bisnis, literatur, teknologi, dan bahkan matematika (seperti kontroversi Cardan yang “mengambil” rumusan mencari akar pangkat tiga dari Tartaglia). Hak privasi terkait dengan subjek bisnis, psikologi, dan penelitian. Juga isu mengenai teknologi mengenai pembajakan, virus, hacking, dll. Guru dapat membawakan strategi ini dengan meminta peserta didik untuk meneliti berbagai perspektif pada isu-isu tersebut, kemudian mendiskusikannya secara rasional, tentunya juga dengan perspektif Alkitab dalam memandang permasalahan tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: