Buddhism

Apa yang kita ketahui sekarang mengenai Buddhisme adalah sebuah keluarga besar dari berbagai tradisi kepercayaan dan filosofi, yang berkembang selama 2500 tahun di dalam banyak kebudayaan.[1] Buddhisme berkembang dengan sangat pesat ke berbagai daerah di dunia, Asia Tenggara, Asia Tengah, Cina, Korea, dan juga Jepang. Dalam perkembangannya, Buddhisme melahirkan banyak sekali variasi di dalam ajarannya secara signifikan. Namun, terlepas dari keberagamannya, Buddhisme mengakar pada ajaran dari Siddharta Gautama, setelah ia mendapat pencerahan di bawah pohon Bodhi.

Siddharta dilahirkan di Kapilavastu, bagian utara India, dalam sebuah kerajaan, pada abad ke-6. Sulit untuk menentukan tahun yang tepat mengenai kelahiran Siddharta. Para scholars memperkirakan kelahirannya di tahun 583 SM dan kematiannya di tahun 483 SM.[2] Secara etimologi kata, “Buddha” sendiri berarti “orang yang telah mencapai pencerahan”.[3] Setelah mempraktikkan kehidupan yang asketis, pada suatu malam, Siddharta mengalami empat tahap dhyana (trance) dan akhirnya mengalami pencerahan.

Di dalam buddhisme, yang menjadi realitas ultimat bukanlah pribadi pencipta yang mahakuasa. Tidak ada konsep tuhan dalam dasar ajaran Buddhisme, oleh karena itu Buddhisme adalah ateis.[4] Yang mungkin dapat disandingkan sebagai realitas ultimat adalah nirwana, karena bagi penganut Buddhisme, nirwana adalah permanen dan tidak terkondisi.[5] Nirwana tidaklah sama dengan Surga seperti dalam pengertian di dalam Kekristenan. Nirwana bukanlah suatu tempat, melainkan suatu keadaan yang berhasil terlepas dari penderitaan yang disebabkan oleh keinginan. Tentu saja orang dapat berdebat mengenai perbedaan realitas ultimat seiring perkembangan ajaran Buddhisme sendiri. Misalnya saja bagi penganut Zen Buddhisme menganggap sunyata atau kekosongan dan bagi Buddha Pure Land memilih konsep Buddha Amida sebagai realitas ultimat. Tetapi tetap saja melihat akar dari Buddhisme sendiri, tidak ada konsep pencipta atau tuhan yang kekal seperti kepercayaan teisme.

Mengenai natur keselamatan, Buddhisme sangat menekankan terlepasnya seseorang dari samsara atau siklus kelahiran kembali. Dengan menganut Four Noble Truths dan Jalan Utama Berunsur Delapan, seseorang dapat mencapai pencerahan dan nirwana.[6] Selama belum mencapai nirwana, seseorang harus terus membayar karma, perbuatan-perbuatan masa lalunya. Jadi, konsep keselamatan manusia di dalam Buddhisme tentu saja bergantung kepada manusia itu sendiri.

[1] Keith Yandell, Buddhism: A Christian Exploration and Appraisal (InterVarsity Press/Paternoster, 2009), 1.

[2] Keith Yandell, Buddhism: A Christian Exploration and Appraisal, 10.

[3] Nalini V. Juthani, Handbook of Spirituality and Worldview in Clinical Practice – Editied by Allan M. Josephson and John Peteet (Washington DC: American Psychiatric Publishing, 2004), 125.

[4] Keith Yandell, Buddhism: A Christian Exploration and Appraisal, 29.

[5] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, 198.

[6] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, 200.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: