Kekristenan dan Pluralisme Agama (4)

Respon Iman Kristen Terhadap Pluralisme Agama

Berdasarkan penjelasan di atas, klaim superioritas Kekristenan menimbulkan sebuah masalah di dalam dunia kita yang pluralistik. Seperti yang kita tahu, klaim Kekristenan bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus, dengan tegas menyingkirkan semua klaim agama yang menganggap keselamatan ada di dalam agama mereka. Hal ini dianggap sebuah intoleransi dan menimbulkan perpecahan. Penginjilan dianggap memecah kerukunan hidup bermasyarakat. Oleh karena itu, bagi mereka yang merasa terganggu dengan klaim tersebut (bukan hanya non-Kristen, tetapi juga orang Kristen) mencoba membuat “jalan tengah” demi mencapai kerukunan antar umat beragama. Teolog Liberal seperti Friedrich Schleiermacher mengatakan bahwa Allah, sehubungan dengan keselamatan, tersedia di beberapa derajat semua agama, tetapi Injil Yesus Kristus adalah pemenuhan dan manifestasi tertinggi dari kesadaran universal agama ini.[1] Pernyataan ini tentu merupakan inklusivisme.[2] Troeltsch mendukung hal tersebut dengan mengatakan bahwa Kekristenan memang memiliki kebenaran dan kekuatan ilahi dan manifestasi dari yang ilahi itu sendiri, tetapi penilaian ini benar hanya  bagi masyarakat Eropa barat saja dan menurutnya bagi negara-negara lain, mereka memiliki proses keselamatannya masing-masing.[3] Pandangan ini sangat ambigu dan cenderung berpotensi untuk memasuki ke tahap pluralisme agama. Kita tentu saja tidak menyangkal bahwa ada anugerah umum Allah bagi semua orang, tanpa memandang agama, suku, ataupun letak geografisnya, tetapi kita tidak mengakui bahwa Allah menyediakan keselamatan yang juga efektif di dalam kepercayaan-kepercayaan lain di luar Kristus. Anugerah umum Allah bukan didesain untuk maksud keselamatan.

Untuk menjawab tantangan ini, pandangan Kristiani tidak bisa hanya memberikan argumen-argumen yang menentang pluralisme agama, karena perdebatan tersebut mungkin tidak akan pernah selesai. Jika kita sedang berdebat, maka masing-masing pihak akan memberikan argumen yang pro dan kontra. Katakan saja lawan debat kita memberikan argumen A dan kita memberikan pandangan non-A, maka kemungkinan besar kita akan membutuhkan waktu yang sangat lama (atau bahkan tidak mungkin) untuk memenangkan perdebatan tersebut. Yang sebaiknya kita lakukan adalah memastikan bahwa argumen A atau lawan kita tersebut tidak mempunyai “kaki yang kuat” untuk berpijak, sehingga mudah untuk diruntuhkan. Geisler menyebutnya dengan istilah “membalikkan beban pembuktian”, yaitu menanyakan kembali asumsi seseorang mengenai pertanyaan yang ia ajukan kepada kita. [4] Kita tidak dapat melawan pluralisme agama hanya dengan mengatakan “tidak, Yesuslah satu-satunya jalan keselamatan dan tidak ada yang lain” dan ditambah dengan “segudang” ayat atau bukti ­non-biblical tentang keberadaan Yesus.[5] Dengan kata lain, kita terlebih dahulu memastikan apakah argumen tentang pluralisme agama mempunyai dasar yang kuat atau tidak.

Pertama, argumen yang dapat kita ajukan untuk mengoreksi fondasi pluralist adalah mengenai penerimaan kepada semua kepercayaan. Kaum pluralis yang menerima semua kepercayaan sebagai kebenaran, maka kepercayaan itu tanpa disadari sedang ­self-destruct, karena menerima semua kepercayaan sama benarnya, berarti juga sedang menerima kepercayaan yang menganut bahwa semua kepercayaan tidak sama. Ini sangat aneh. Kembali kepada hukum non-contradiction, bahwa sesuatu tidak mungkin benar dan salah secara bersamaan dalam satu waktu dan konteks yang sama. “Semua kepercayaan adalah benar” berarti pada saat yang sama menerima pandangan orang lain atau agama yang mengatakan bahwa kepercayaannyalah yang paling benar atau semua kepercayaan tidak sama. Maka pernyataan “semua agama sama” berarti juga menerima klaim agama monoteis bahwa hanya Allah-nya yang benar dan allah lain tidak, seperti yang diklaim oleh Kristus, Muhammad, dan Yudaisme. Klaim ini menyerang dirinya sendiri.

Kedua, kepercayaan bahwa semua kepercayaan adalah sama, sebenarnya sama artinya dengan tidak percaya kepada apapun. Geisler memberikan sebuah ilustrasi: bayangkan ketika kita menggunakan sebuah penunjuk arah dan alat tersebut menunjukkan semua arah (utara, timur, selatan, barat) secara bersamaan dan kita mempercayainya, maka sama saja kita tidak percaya kepada apapun dari petunjuk tersebut.[6] Mempercayai semua kepercayaan berarti tidak percaya apapun. Ketiga, karena pluralisme agama dan relativisme cukup identik satu sama lain, maka di dalam klaim pluralisme agama juga mengandung asumsi dari relativisme. Di dalam pluralisme agama, setiap orang yang menyatakan agama atau kepercayaannya superior dari yang lain, maka hal itu dianggap tidak toleran. Pluralisme agama mengharuskan kita untuk menerima semua pandangan karena memang semua pandangan sama-sama benar secara relatif, tidak ada yang benar secara absolut. Jika kita lebih mencermatinya, perintah ini sangat aneh, karena orang yang menyerukan “anda tidak toleran” adalah orang yang paling intoleran. Jika toleransi diartikan sebagai “menerima/menyetujui semua pandangan” maka kata “toleransi” sudah kehilangan maknanya. Kita tidak menoleransi pandangan yang kita setujui. [7] Juga orang yang mengatakan orang Kristen tidak toleran, orang itu sendiri sebenarnya tidak toleran, karena dia tidak mau menerima pandangan yang bertentangan dengannya. Kristus tidak pernah memanggil orang Kristen untuk toleran, tetapi untuk mengasihi. Ketika kita tidak sependapat dengan orang lain, justru kasih Kristus harus memancar dari kita sebagai anak-anak terang dengan menegur yang salah, memberi pujian (support) bagi yang hidup benar, dan juga mengampuni. Yesus sendiri menegur dengan keras murid-muridnya, ahli-ahli taurat, menunggang balikan meja-meja penjualan di depan bait Allah, tetapi Ia juga mengampuni yang datang kepada-Nya, bahkan memberi pujian bagi yang mengerjakan kebenaran.

Netland memberikan tiga pertanyaan mendasar yang dapat digunakan ketika menguji kebenaran di dalam agama-agama: 1) Apa natur religius ultimat dalam agama tersebut?; 2) Apa natur masalah manusia?; 3) Apa natur keselamatannya?[8] Dalam tulisan ini, kita hanya melihat kepada tiga agama besar di dunia di luar Kekristenan, yaitu Islam, Buddha, dan Hindu. Kita akan melihat bagaimana Kekristenan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dibandingkan dengan tiga agama tersebut.

Islam. Agama Islam mulai muncul dan menyebar luas di abad ke-7.[9] Tepatnya ketika Muhammad mengaku mendapatkan wahyu dari allah melalui malaikat jibril di gua Hira, pada tahun 610 M. Sejak saat itu Muhammad mulai menyebarkan bahwa hanya ada satu allah sebagai pencipta dan penguasa tertinggi. Konsep mengenai satu allah ini disebut tawhid. Allah inilah satu-satunya realitas ultimat yang harus dipatuhi dan disembah. Upaya apapun untuk mengaburkan perbedaan yang tajam antara Pencipta dan ciptaan dianggap syirik atau penyembahan berhala.[10] Mengenai natur masalah manusia, Islam berbeda dengan konsep Kekristenan. Islam tidak mengenal konsep kejatuhan, dosa asal, kerusakan radikal natur manusia, dan ketidakmampuan manusia untuk bebas dari belenggu dosa.[11] Dosa dipandang sebagai kelemahan atau kecacatan yang disebabkan ketidaktaatan kepada perintah allah selama hidupnya. Lalu bagaimana manusia bisa diselamatkan? Islam mengajarkan jika manusia melakukan 5 Rukun Islam dan mempercayai 6 Rukun Iman, maka kemungkinan manusia dapat memperoleh keselamatan dan diperkenankan mendapatkan Surga yang kekal.[12] Pada akhir hidup seseorang, perbuatan baik dan jahatnya selama ia hidup akan diukur. Jika perbuatan baiknya lebih banyak, maka allah akan menyelamatkannya, tapi jika sebaliknya, maka orang tersebut tidak diperkenankan masuk surga. Manusia tidak memerlukan penebus, karena memang tidak mungkin seseorang dapat menanggung dosa orang lain. Setiap orang bertanggung jawab terhadap dosanya sendiri. Jadi inti keselamatan di dalam ajaran Islam adalah bergantung kepada usaha manusia itu sendiri untuk tunduk kepada perintah allah atau tidak.

Buddha. Apa yang kita ketahui sekarang mengenai Buddhisme adalah sebuah keluarga besar dari berbagai tradisi kepercayaan dan filosofi, yang berkembang selama 2500 tahun di dalam banyak kebudayaan.[13] Buddhisme berkembang dengan sangat pesat ke berbagai daerah di dunia, Asia Tenggara, Asia Tengah, Cina, Korea, dan juga Jepang. Dalam perkembangannya, Buddhisme melahirkan banyak sekali variasi di dalam ajarannya secara signifikan. Namun, terlepas dari keberagamannya, Buddhisme mengakar pada ajaran dari Siddharta Gautama, setelah ia mendapat pencerahan di bawah pohon Bodhi.

Siddharta dilahirkan di Kapilavastu, bagian utara India, dalam sebuah kerajaan, pada abad ke-6. Sulit untuk menentukan tahun yang tepat mengenai kelahiran Siddharta. Para scholars memperkirakan kelahirannya di tahun 583 SM dan kematiannya di tahun 483 SM.[14] Secara etimologi kata, “Buddha” sendiri berarti “orang yang telah mencapai pencerahan”.[15] Setelah mempraktikkan kehidupan yang asketis, pada suatu malam, Siddharta mengalami empat tahap dhyana (trance) dan akhirnya mengalami pencerahan.

Di dalam buddhisme, yang menjadi realitas ultimat bukanlah pribadi pencipta yang mahakuasa. Tidak ada konsep tuhan dalam dasar ajaran Buddhisme, oleh karena itu Buddhisme adalah ateis.[16] Yang mungkin dapat disandingkan sebagai realitas ultimat adalah nirwana, karena bagi penganut Buddhisme, nirwana adalah permanen dan tidak terkondisi.[17] Nirwana tidaklah sama dengan Surga seperti dalam pengertian di dalam Kekristenan. Nirwana bukanlah suatu tempat, melainkan suatu keadaan yang berhasil terlepas dari penderitaan yang disebabkan oleh keinginan. Tentu saja orang dapat berdebat mengenai perbedaan realitas ultimat seiring perkembangan ajaran Buddhisme sendiri. Misalnya saja bagi penganut Zen Buddhisme menganggap sunyata atau kekosongan dan bagi Buddha Pure Land memilih konsep Buddha Amida sebagai realitas ultimat. Tetapi tetap saja melihat akar dari Buddhisme sendiri, tidak ada konsep pencipta atau tuhan yang kekal seperti kepercayaan teisme.

Mengenai natur keselamatan, Buddhisme sangat menekankan terlepasnya seseorang dari samsara atau siklus kelahiran kembali. Dengan menganut Four Noble Truths dan Jalan Utama Berunsur Delapan, seseorang dapat mencapai pencerahan dan nirwana.[18] Selama belum mencapai nirwana, seseorang harus terus membayar karma, perbuatan-perbuatan masa lalunya. Jadi, konsep keselamatan manusia di dalam Buddhisme tentu saja bergantung kepada manusia itu sendiri.

Hindu. Hindu merupakan satu diantara tiga agama besar di India, selain Buddha dan Jain. Sejarah kehidupan keagamaan masyarakat India dimulai kira-kira pada pertengahan abad ke-20 SM. Sekelompok suku yang bernama Aryan menduduki daerah utara India, di sekitar lembah Indus, dengan membawa kepercayaan mereka, misalnya politeisme.[19] Penganut Hindu Advaita Vedanta yang mengarah kepada monistik menganggap Brahman sebagai realitas ultimat. Namun dikalangan penganut yang tidak terlalu filosofis, lebih memilih berbagai dewa. Umumnya Hinduisme di India percaya kepada 330 juta dewa dan menyembah tiga dewa besar; Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Sebenarnya tidak terlalu jelas apakah Brahman sebagai realitas ultimat adalah personal atau impersonal. Yang terutama adalah Brahman memanifestasikan dirinya ke dalam seluruh proses kosmik atau yang biasa dikenal dengan panteisme.[20]

Tidak jauh berbeda dengan Buddhisme, pandangan Hinduisme tentang natur masalah adalah mengenai manusia yang terjebak dalam samsara. Akar masalah manusia bukanlah dosa atau pemberontakan terhadap Tuhan, melainkan ketidaktahuan atau ignorance terhadap memahami natur realitas yang sesungguhnya.[21] Keselamatan adalah terlepasnya manusia dari samsara atau yang disebut moksha, yaitu pembebasan. Pembebasan ini dapat tercapai dengan menjalankan karma marga (tidak mementingkan diri sendiri dan taat kepada aturan moral dan ritual), jnana marga (membebaskan pandangan kepada natur realitas), dan bhakti marga (menaati satu tuhan yang personal).[22] Selain itu, Ravi Zacharias mengatakan inti dan sasaran keselamatan dalam Hinduisme adalah bahwa kita harus mengusahakan kesatuan yang ilahi, yaitu Brahman, karena kita adalah bagian dan perwujudannya di dalam alam semesta.[23]

Setelah membahas sedikit mengenai tiga agama besar tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa usaha manusia menjadi peran sentral di dalam keselamatan, meskipun objek yang dituju tidak terlalu jelas, allah atau sebuah keadaan yang permanen. Jika berbicara mengenai tiga standar tersebut, Kekristenan berbeda cukup jauh dan menyediakan jawaban yang paling koheren antara satu pertanyaan dengan pertanyaan lainnya. Tentu saja kita harus mengakui bahwa tidak akan pernah ada sebuah wawasan dunia yang mampu menjawab semua persoalan di alam semesta ini dengan sempurna, tetapi paling tidak, ada wawasan dunia yang paling efektif untuk menjawabnya.

Di dalam Kekristenan, Allah yang Esa di dalam tiga pribadi, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus, atau yang disebut dengan Allah Tritunggal adalah realitas yang ultimat. Seringkali serangan-serangan dari pihak luar mempermasalahkan dengan doktrin Tritunggal ini. Bagaimana Allah itu Satu tapi juga Tiga? Perlu ditekankan, bahwa Allah itu satu di dalam esensinya dan tiga di dalam pribadi.[24] Ini bukan sesuatu yang berkontradiksi. Kecuali Kekristenan menyatakan “Allah itu satu esensi dan tiga esensi” atau “Allah itu satu pribadi di dalam tiga pribadi”, itu baru merupakan sesuatu yang berkontradiksi. Ketiga pribadi ini bersifat kekal, memiliki hakekat yang sama, dan tidak menciptakan atau diciptakan satu dengan yang lainnya. Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus saling mengasihi satu dengan yang lain di dalam sebuah relasi yang kudus.

Mengapa doktrin ini berbeda dengan konsep religius ultimat dari agama-agama lain? Karena doktrin Tritunggal ini mampu untuk menjawab berbagai realitas dan permasalahan yang kita hadapi. Berbicara tentang relasi yang saling mengasihi misalnya. Bagaimana manusia dapat hidup berelasi satu dengan yang lain dan tidak bisa hidup tanpa orang lain di sekitarnya, sehingga kita disebut sebagai “makhluk sosial”? Jawaban atas pertanyaan ini terletak di dalam doktrin Tritunggal. Allah yang adalah Kasih, di dalam tiga pribadi yang sejak kekekalan hidup berelasi, mewarisi gambar dan rupa-Nya kepada manusia ciptaan-Nya, sehingga manusia memiliki natur untuk hidup bersama sebagai makhluk sosial. Bandingkan dengan konsep tawhid atau keesaan Allah di dalam teologi Islam. Doktrin tersebut menimbulkan beberapa masalah. Bila kita bertanya kepada kaum muslim “apakah Allah adalah Kasih?” mereka akan menjawab ya. Lalu “apakah Allah adalah Kasih sejak kekekalan?” mereka pasti menjawab tentu saja Allah sifat Allah tersebut sejak kekekalan. Maka “kepada siapa Allah mengasihi? Bukankah seorang pribadi disebut penuh kasih apabila ada sesuatu di luar dirinya yang menjadi objek dari kasih itu?” Muslim akan memiliki kesulitan untuk menjawab permasalahan tersebut. Begitu juga dengan Buddha yang ateis dan Hindu yang tidak begitu jelas apakah Brahman adalah pribadi atau tidak, dan konsep politeisme-nya pun tidak dapat menjawabnya.

Mengenai natur masalah manusia, kekristenan percaya bahwa semua manusia telah jatuh ke dalam dosa karena mewarisi natur dosa dari manusia pertama, Adam (Rm. 3:10-13; 5:12). Dalam konsep agama lain, paling tidak kita memahami bahwa manusia menjadi berdosa karena telah berbuat kejahatan dengan mencuri, membunuh, berbohong, atau berzinah. Tetapi tidak demikian di dalam Kekristenan. Manusia bukan berbuat jahat maka berdosa, tetapi justru karena manusia berdosa maka mereka berbuat jahat. Seekor singa tidak menjadi buas karena memakan sesama makhluk hidup, justru karena singa dasarnya adalah hewan buas maka mereka memakan mahluk hidup lain. Jadi masalah utama dalam hidup ini adalah dosa. Karena dosa, manusia tidak dapat mencapai kekudusan yang Allah kehendaki dan kecenderungan hatinya adalah berbuat kejahatan (Kej. 6:5).

Agama-agama, science, dan psikologi modern mencoba menyelesaikan kejahatan moral dengan mengubah perilaku seseorang, dari jahat untuk menjadi baik. Namun, permasalahan yang sesungguhnya bukanlah pada perilaku seseorang, tapi apa yang ada di balik dan menyebabkan perilaku jahat tersebut. Manusia dengan segala kerusakannya yang disebabkan oleh dosa tidak mungkin dapat menyelesaikan keadaan berdosanya. Dosa melumpuhkan manusia untuk mampu mencari Allah yang benar, oleh karena itu mereka disimpangkan kepada penciptaan agama-agama, yang sebenarnya hanyalah sebuah “pelarian” dari Allah yang benar. Hanya Allah yang Maha Kuasa dan Maha Kudus mampu menyelamatkan manusia yang berdosa. Oleh karena itu, keselamatan haruslah dari Allah sendiri yang berinisiatif dan hal ini telah dilakukan oleh Anak Tunggal Allah, Yesus Kristus. Kristus, yang merupakan Allah dari pribadi ke-2, turun ke dalam dunia yang berdosa menjadi manusia untuk menjadi jalan pendamaian antara manusia dengan Allah. Oleh karena itu, konsep keselamatan di dalam kekristenan bukanlah manusia yang mencari Allah, tetapi Allah yang berinisiatif untuk mencari manusia dan menyelamatkannya, seperti seorang gembala mencari domba yang hilang (Mat. 18:12-14).

Kesimpulan

Pluralisme agama sebagai alternatif dari keberagaman agama yang semakin berkembang saat ini tidak akan mampu menjawab berbagai kebutuhan dan persoalan manusia yang paling dasar. Manusia memerlukan sebuah pandangan atau kepercayaan yang kokoh dan mampu memberi makna atas apa itu manusia, mengapa manusia harus hidup, dan bagaimana manusia seharusnya hidup. Jika seorang pluralis diberi tiga pertanyaan mendasar ini dan diberi sebuah alat tulis untuk menuliskan jawabannya di papan tulis, apakah yang akan ia tulis? Pandangan agama mana yang akan ia pakai untuk menjawabnya? Jika ia konsisten dengan pandangannya, ia akan menjawab “semuanya benar”, maka sama saja ia tidak memakai pandangan apapun untuk menjawabnya dan nyatanya ia sedang tidak menjawab pertanyaan tersebut!

Dosa menjauhkan manusia dari Allah yang benar. Agama-agama di luar kepercayaan Kekristenan yang ortodoks, hanya merupakan sebuah “pelarian” untuk menaati Allah yang benar. Mereka ingin menjadi “allah” bagi diri mereka sendiri dan keuntungannya adalah menentukan apa yang benar sesuai keinginan hatinya. Sama seperti apa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa, mau menjadi “seperti allah” supaya mengetahui apa yang benar dan jahat di luar Allah. Tetapi oleh kasih-Nya yang besar, Allah mengirimkan Anak-Nya Yesus Kristus, rela turun ke dunia yang kotor untuk menyelamatkan umat manusia yang telah jauh dari Allah, supaya diperdamaikan dengan-Nya dan dikembalikan kepada rancangan-Nya yang semula (Yoh. 3:16).

[1] Dennis L. Okholm, Four Views on Salvation In a Pluralistic World (Michigan: Zondervan, 1995), 8.

[2] Pandangan ini menyatakan bahwa memang Yesus Kristus adalah jalan keselamatan, namun Allah juga menyediakan keselamatan di dalam agama-agama lain.

[3] Dennis L. Okholm, Four Views on Salvation In a Pluralistic World, 9.

[4] Norman Geisler & David Geisler, Conversational Evangelism (Yogyakarta: Diterjemahkan oleh Yayasan Gloria, 2010), 88.

[5] Misalnya bukti-bukti Yesus mati dan bangkit dari tulisan-tulisan Josephus, Mara bar Serapion, Philo, dan sejarawan abad-abad awal. Lihat J. Warner Wallace,  Cold Case Christianity (Canada: David C. Cook, 2013)

[6] Norman Geisler & David Geisler, Conversational Evangelism (Yogyakarta: Diterjemahkan oleh Yayasan Gloria, 2010), 62.

[7] Lihat Craig Branch,  https://arcapologetics.org/objections/has-postmodernism-killed-truth/

[8] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, 197.

[9] Islam mungkin tidak setuju dengan penentuan tahun ini, karena Islam mengklaim bahwa semua nabi yang muncul sepanjang sejarah adalah muslim, termasuk nabi Adam. Sesuai dengan arti Islam, yaitu “penundukkan terhadap kehendak allah”, berarti semua orang yang tunduk kepada allah, termasuk para nabi, adalah muslim. Jadi Islam sudah ada sejak manusia pertama Adam diciptakan oleh allah. Lihat Nabeel Qureshi, No God But One: Allah or Jesus? (Michigan: Zondervan, 2016), 33.

[10] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, 197.

[11] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, 199.

[12] 5 Rukun Islam meliputi: mengucapkan kalimat shahadat, shalat 5 waktu, membayar zakat, puasa, dan naik haji. Secara umum, Jihad sebenarnya termasuk di dalam Rukun Islam yang keenam, karena di dalam Quran Muhammad mengajarkan bahwa Allah menjanjikan Surga bagi yang mati di dalam melakukan jihad dan tidak ada kebaikan yang setara dengan jihad (Sura 9:5, 38-39, 41, 111; Shahih Al-Bukhari 4.52.44). 6 Rukun Iman meliputi percaya kepada allah, para nabi, kitab-kitab allah, para malaikat, takdir, dan hari kiamat.

[13] Keith Yandell, Buddhism: A Christian Exploration and Appraisal (InterVarsity Press/Paternoster, 2009), 1.

[14] Keith Yandell, Buddhism: A Christian Exploration and Appraisal, 10.

[15] Nalini V. Juthani, Handbook of Spirituality and Worldview in Clinical Practice – Editied by Allan M. Josephson and John Peteet (Washington DC: American Psychiatric Publishing, 2004), 125.

[16] Keith Yandell, Buddhism: A Christian Exploration and Appraisal, 29.

[17] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, 198.

[18] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, 200.

[19] Keith Yandell, Buddhism: A Christian Exploration and Appraisal, 2. Politeisme merupakan kepercayaan terhadap banyak allah.

[20] Panteisme berasal dari bahasa Latin pan (semua) dan theos (tuhan). Maka Panteisme adalah kepercayaan bahwa semua adalah tuhan, termasuk manusia yang memiliki benih ilahi yang ditanamkan oleh Brahman.

[21] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, 198.

[22] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, 199.

[23] Ravi Zacharias, Jesus Among Other Gods (Bandung: Terjemahan Pionir Jaya, 2007), 140.

[24] Nabeel Qureshi, No God But One: Allah or Jesus? (Michigan: Zondervan, 2016), 56.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: