Kekristenan dan Pluralisme Agama (3)

Pluralisme Agama

Salah satu hukum dari ilmu logika adalah law of non-contradiction. Walaupun tidak semua orang mengenal istilah ini, namun semua orang tanpa terkecuali menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Hukum ini menjelaskan bahwa sesuatu tidak mungkin dapat benar dan salah pada waktu dan konteks yang bersamaan. Pernyataan “A adalah seorang ayah” dan “A adalah seorang bujangan” tidak mungkin dapat benar secara bersamaan, karena jika A adalah seorang ayah, ia pasti sudah menikah dan mempunyai anak, sehingga tidak mungkin A masih berstatus single. Salah satu pernyataan tersebut harus benar dan lainnya harus salah, tidak dapat benar kedua-duanya. Setiap agama memiliki klaim masing-masing mengenai ajaran dan banyak orang mengatakan agama-agama itu sama saja dalam ajarannya secara fundamental, yaitu sama-sama menyembah allah, beribadah, harus berbuat baik kepada sesama, dan hidup dalam perdamaian. Akan tetapi, pernyataan itu mengandung kekeliruan yang besar, yaitu bahwa agama-agama justru berbeda secara fundamental. Tentu saja kita tidak boleh menyangkal bahwa ada kesamaan-kesamaan diantara agama-agama dunia, tapi kesamaan-kesamaan itu hanyalah di permukaan saja (superficial), seperti yang dikatakan Vince Vitale:

Nonetheless, a lot of people are in agreement that the major religions and even the major worldviews more generally, are fundamentally the same. This is a common and also dangerous mistake. The more you study them, the clearer it becomes that while the major worldviews are sometimes superficially similar, they are fundamentally very different and often at odds.[1]

Mengambil sebuah contoh, Kekristenan dan Islam. Kekristenan melalui Alkitab percaya bahwa Yesus mati disalibkan (Mat. 27:35,50; Mrk. 15:25, 39, Rm. 6:23), sedangkan di dalam Quran, Yesus tidaklah disalib, apalagi mengalami kematian[2]. Dari dua proposisi tersebut, satu harus salah, tidak mungkin keduanya benar. Begitu juga Kekristenan dengan Pluralisme agama. Yesus mengatakan I am the only Way untuk keselamatan manusia, sedangkan pluralisme agama menyatakan keselamatan ada di semua agama dengan caranya masing-masing, kedua klaim ini tidak mungkin benar keduanya. Bahkan jika kita lebih teliti dalam melihat dua klaim tersebut, sebenarnya pluralisme agama sulit untuk dipertahankan. Jika ternyata Yesus benar mengenai klaimnya the only Way, maka pluralisme agama sudah pasti salah. Namun jika Yesus ternyata salah, bahwa Dia bukanlah jalan keselamatan, maka pluralisme agama juga tetap salah, karena berarti tidak semua agama benar dalam klaim keselamatannya.

Dalam pembahasan kontemporer mengenai pluralisme agama, terdapat several grounds: 1) Secara etis, pluralisme agama adalah satu-satunya cara untuk mempromosikan keadilan di dalam dunia kita yang semakin intoleran dan opresif; 2) Dalam hal pengalaman rohani, pluralisme agama membuat tidak ada satu agamapun yang dapat menyatakan posisi absolutnya; 3) Melalui hasil tesis dari teori historisis, memvariasikan konteks budaya dan sejarah mencegah klaim-klaim rohani yang absolut.[3] Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pluralisme agama adalah paham yang mengatakan bahwa keselamatan (atau pencerahan/pembebasan) harus diakui ada di semua agama dan tidak ada agama yang dapat mengklaim dirinya normatif atau superior dibanding agama-agama lain. John Hick, seorang pluralis yang terkemuka dalam menyuarakan pandangannya menyatakan: “kita tidak mungkin memberikan penilaian secara global tentang tradisi agama mana yang lebih banyak berbuat baik atau jahat dan dinilai secara keseluruhan semua agama (kurang lebih) setara antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, tidak ada satupun yang dapat dianggap superior.[4] Langdon Gilkey juga menyatakan hal yang sama, bahwa ia tidak dapat lagi mempertahankan klaimnya mengenai keabsolutan Kekristenan atau Kristus, yang ia buat sendiri selama hidupnya, karena menurutnya “tidak ada pewahyuan yang dapat menjadi kriteria universal bagi semuanya.”[5]

Bukan sebuah tugas yang mudah untuk menentukan kapan pluralisme agama mulai muncul di masyarakat, terutama di Barat. Pluralisme agama mengalami proses perkembangan yang begitu panjang. Netland memberikan ringkasan yang cukup detail mengenai sejarah perjumpaan Eropa dengan masyarakat di berbagai pulau lain, khususnya di Timur.[6] Perjalanan Colombus (1492), Vasco da Gama (1497), Pedro Cabral (1500), dan petualang lainnya memperkenalkan banyak suku dari Amerika, Afrika, dan Asia kepada Eropa. Pada tahun-tahun inilah yang menandai titik balik dalam cara orang Eropa, termasuk orang Kristen, memandang dunia dan pada gilirannya memahami diri mereka. Jumlah dan keberagaman yang luar biasa dari orang-orang “dunia baru” itu menyebabkan dunia Barat memikirkan kembali asumsi-asumsi umum mengenai dunia dan posisi Eropa di dalamnya, misalnya saja mengenai keselamatan. Temuan atas keberagaman tersebut mengharuskan para teolog memikirkan kembali semua prasyarat keselamatan. Iman dalam Yesus Kristus dan menjadi anggota gereja sebagai prasayarat mutlak keselamatan tidak mungkin lagi dipertahankan.[7] Kolonialisme abad 16 dan 17 juga berperan sangat penting dalam membentuk pluralisme agama. Kita selama ini hanya melihat dampak akibat kolonialisme terhadap daerah-daerah jajahan Barat begitu nyata dari sisi luarnya dan melewatkan dampak yang besar pada sisi yang lain yang tidak kalah besarnya, bahwa negara-negara jajahan tersebut mempengaruhi Barat dari sisi dalam.[8]

Netland juga menjelaskan bahwa perjumpaan Kekristenan Barat dengan kebudayaan dan agama-agama lain dari Timur benar-benar mengubah pemikiran mereka dan hal tersebut tidak terlepas dari diterjemahkannya kitab-kitab suci agama-agama tersebut. Kitab-kitab klasik Konfusius yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada tahun 1687, Bhagavad-Gita ke dalam bahasa Inggris pada 1785, dan The Light of Asia, tulisan dari Sir Edwin Arnold pada 1879 mengenai kehidupan Buddha, mulai tersebar luas dan dibaca oleh masyarakat.[9] Tidak dapat dipungkiri juga, merosotnya Kekristenan pada awal abad 19 membuka peluang bagi pemikiran-pemikiran lain untuk masuk ke dalam masyarakat Barat. Munculnya Darwinisme, Komunisme, pengaruh agama-agama Timur, dan pemikiran lainnya membuat orang semakin bersikap skeptik dengan iman Kekristenan yang ortodoks. Juga globalisasi dan sampai kepada zaman postmodernisme, di mana orang mulai curiga terhadap apa yang diklaim sebagai kebenaran objektif. Hal-hal tersebut merupakan faktor-faktor munculnya pluralisme agama.

Memang betul, seperti yang telah dibahas, pluralisme agama merupakan respon sosio-budaya terhadap keberagaman. Namun, Netland mengungkapkan sebuah poin yang sangat penting, bahwa semua ini disebabkan oleh dosa. Di tengah ketidakpercayaan, terdapat dosa, pemberontakan manusia terhadap Allah dan kehendak-Nya, serta pengejaran otonomi manusia. Hingga tahun 2008, Pew Forum Research mengatakan terdapat sekitar 70% warga Amerika yang percaya bahwa jalan menuju Surga tidak hanya satu dan 57% dari persentase tersebut adalah kalangan protestan-injili![10] Hasil survey ini mungkin sangat mengejutkan. Inilah bukti dari natur dosa yang menyebabkan manusia menolak kebenaran. Karena keraguan terhadap injil Yesus Kristus merupakan manifestasi dari dorongan penuh dosa yang mengejar kebebasan dari Tuhan dan kebenaran-Nya. Oleh karena itu, pluralisme agama agama bukan saja merupakan respon terhadap keragaman di masyarakat, di dalamnya juga tercakup respon teologis kepada pewahyuan Allah di dalam Kristus.[11]

[1] Ravi Zacharias and Vince Vitale, Jesus Among Secular Gods (Hachette Book Group, Inc.: New York, 2017), 95.

[2] Surah 4:157. Terdapat beberapa pandangan mengenai kisah penyaliban ini, seperti mengatakan bahwa Yudaslah yang disalib, Ahmed Deedat mengatakan Yesus disalib tetapi tidak mati, melainkan hanya pingsan.  Lihat http://www.ccel.us/islamdebate.ch2.html.

[3] Dennis L. Okholm, Four Views on Salvation In a Pluralistic World (Zondervan: Michigan, 1995), 17.

[4] John Hick, The Myth of Christian Uniqueness: Toward a Pluralistic Theology of Religions (Oregon: Wipf and Stock Publishers, 2005), ix.

[5] Ibid, x.

[6] Netland mengatakan  di permulaan abad kelima belas, umat Kristen Eropa hampir tidak tahu-menahu tentang budaya-budaya di luar tapal batasnya. Lihat Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, 98.

[7] Jaques Dupuis, Toward a Christian Theology of Religious Pluralism, dalam Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, hlm. 98-99.

[8] Hendrik Kraemer, World Cultures and World Religions: The Coming Dialogue (Philadelphia: Westminster Press, 1960), 228.

[9] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, 106-110.

[10] Lihat Craig Branch,  https://arcapologetics.org/objections/has-postmodernism-killed-truth/

[11] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, 134.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: