Kekristenan dan Pluralisme Agama (2)

Pengertian Agama

Agama merupakan salah satu aspek yang penting di dalam kehidupan manusia. Manusia tidak hanya memikirkan apa yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan di dalam dunia, tetapi juga mengenai kehidupan setelah kematian. Pada satu titik di dalam kehidupan manusia, mereka akan bertanya mengenai mengapa mereka hidup di dalam dunia ini, bagaimana seharusnya hidup, apa tujuan hidup dari manusia, dan apa yang akan dilakukan setelah meninggalkan dunia ini. Agama–agama di dunia selama ini telah menjadi sistem dari masyarakat dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Sebenarnya apa agama itu? Yandell mengatakan secara umum kita bisa membagi agama menjadi dua, yaitu formal religion dan folk religion.[1] Formal Religion merupakan agama yang memiliki unsur-unsur yang lengkap, seperti doktrin, institusi, kitab suci, dan otoritas, sedangkan folk religion hanyalah sekedar kepercayaan di mana penganutnya tidak terlalu tertarik kepada institusi dan doktrin yang sistematis. Folk Religion biasanya dianut oleh orang-orang di suku pedalaman. Namun, menurut Tong, kepercayaan-kepercayaan yang dianut dalam folk religion sebenarnya tidak dapat disebut agama. Kepercayaan seperti heroisme (pengagungan dan penyembahan terhadap para pahlawan), fetisisme (penyimpanan jimat), animisme (penyembahan terhadap benda-benda alam), totemisme (mendewakan binatang), dan ancestorisme (penyembahan terhadap leluhur/nenek moyang) belum mencapai kualifikasi sebagai agama.[2] Ninian Smart memberikan saran agar kita dapat membayangkan agama di dalam 7 dimensi: ritual, narasi/mitologis, doktrinal, etika, institusional/sosial, eksperensial, dan material.[3]

Namun, mengapa terdapat banyak sekali agama-agama di dunia, di sepanjang sejarah peradaban umat manusia? Adakah orang yang tidak memiliki agama? Mengapa banyak sekali  kejahatan yang dilakukan atas nama agama? Sepanjang sejarah, konflik antar masyarakat tidak lepas dari topik mengenai agama. Mereka menggunakan agama sebagai motif dari perbuatan mereka. Gautama Buddha meninggalkan sistem kepercayaan Hindu di India karena tidak setuju dengan sistem kasta yang dianut mereka, bahkan dalam perkembangannya terdapat disagreement tentang ajaran Buddha sendiri dan menghasilkan dua golongan utama Buddhisme, yaitu Theravada (Hinayana) dan Mahayana. Penaklukan wilayah dunia oleh Islam, hanya dalam beberapa dekade setelah kematian Muhammad, dilakukan oleh empat khalifah (Rashidun) dan beberapa dinasti setelahnya. Mereka menjalankan jihad sesuai dengan perintah allah kepada Muhammad, sebagai salah satu tindakan yang tidak dapat dibandingkan dengan apapun.[4] Sampai hari ini kita bisa melihat apa yang dilakukan ISIS, Boko Haram, dan organisasi radikal lainnya. Selain itu, perang salib pada abad pertengahan. Otoritas absolut Paus dalam Gereja Katolik Roma memimpin kepada reformasi yang dilakukan Johannes Hus, John Wycliff, Martin Luther, dan Calvin, perang 30 tahun (1618-1648), sampai kepada perbudakan kulit hitam, juga adalah contoh manusia yang mengatasnamakan agama dalam perbuatan mereka yang kejam. Dalam masyarakat Indonesia pada masa kini juga tidak sedikit ditemukan konflik mengenai agama.

Melihat fenomena-fenomena tersebut, sejarah maupun di masa kita hidup saat ini, banyak orang menjadi “marah” terhadap agama. Jika dapat dirangkumkan, mereka berkata: “Untuk apa ada agama? Mengapa harus ada agama? Agama membuat orang jadi bertengkar.” Benarkah agama membuat masyarakat menjadi bertengkar, bahkan sampai kepada saling membunuh? Benarkah agama yang salah? Ada hal penting yang harus diperhatikan. Apakah karena kemajuan internet saat ini yang digunakan orang untuk menyebar virus untuk merusak sistem-sistem keamanan, menyebarkan pornografi, penipuan, maka kita menyalahkan “mengapa harus ada internet?” Kelebihan uang membuat orang menjadi serakah, sombong, egois, sedangkan kekurangan uang membuat orang bisa merampok dan membunuh teman dan saudara sendiri, apakah hal itu disebabkan oleh uang? Internet dan uang yang salah atau manusia yang salah dalam menggunakannya? Tanpa internet dan uang, manusia masih bisa menjadi manusia, tetapi tanpa agama manusia bukanlah manusia. Perasaan terhadap sesuatu yang ilahi membuat manusia melebihi hewan. Mengapa saat orang salah menggunakan internet dan uang yang menyebabkan kejahatan kita tidak protes dan berusaha untuk meniadakannya, tapi ketika berhadapan dengan isu agama kita menyalahkan dan mau  menghilangkan agama?

Zaman Pencerahan adalah masa di mana manusia ingin mendapatkan kebebasan dalam berpikir dan cara hidup. Bebas dari apa? Bebas dari “penjara” agama. Kekuasaan gereja dan doktrin-doktrinnya yang begitu mendominasi kehidupan Eropa ingin disingkirkan. Menurut kaum intelektual pencerahan, agama adalah takhayul dan irasional, apabila manusia masih mempercayai agama, maka kehidupan ini tidak akan maju. Mereka mengakui kemampuan nalar untuk mencapai kebenaran normatif yang valid secara universal dan faktor eksternal tertentu seperti kepatuhan religius yang terkait dengan gereja dan agama tradisional diyakini merusak cara akal budi beroperasi.[5] Oleh karena itu, para budayawan, filsuf, penulis, kaum intelektual lainnya melancarkan serangan terhadap agama dengan menggunakan kemampuan akal budi/rasio manusia untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

Dari asumsi-asumsi pencerahan inilah zaman modernitas terbentuk. Kemajuan sains, revolusi industri, dan kemajuan teknologi membuat manusia semakin otonom atas hidupnya. Agama (secara khusus Kekristenan) seringkali dianggap berada di level yang paling bawah dalam kehidupan manusia. Dalam zaman modern ini muncul banyak sekali kaum intelektual yang mulai mereduksi mengenai arti dan pentingnya agama. Tokoh-tokoh seperti Immanuel Kant, Auguste Comte, Edward Taylor, Ludwig Feuerbach, John Lubbock, dsb, mendefinisikan agama sebagai ciptaan manusia, tercipta ketika manusia mendewakan alam, atau agama hanya terbatas kepada moral. Sebagai contoh, Sigmund Freud mencoba mendefinisikan agama dari kacamata ateistiknya, mengatakan bahwa Tuhan di dalam agama hanyalah sebuah proyeksi dari kebutuhan batiniah manusia dan harapan, dan oleh karena itu merupakan ilusi.[6] Comte juga mengatakan bahwa keberadaan manusia dan sejarah terbagi menjadi tiga tahap: tahap Teologi, Metafisika, dan Positif.[7] Tahap Teologi adalah level terendah manusia, ketika mereka belum berpengetahuan dan belum dapat menjelaskan keberadaan misteri dan fenomena alam. Bergerak ke tahap Metafisika, di mana manusia sudah mulai mencari kebenaran di luar dunia yang kelihatan. Lalu sampailah kepada tahap Positif, yaitu ketika manusia sudah memiliki dan berhasil mencapai pengetahuan yang scientific, sehingga ketika sudah pandai, manusia tidak lagi perlu agama. Apakah benar agama merupakan ciptaan manusia? Jadi sebenarnya agama berasal dari dalam manusia atau luar manusia? Jika dari dalam manusia, siapa yang menaruhnya? Dan Jika berada di luar manusia, mengapa hanya manusia yang bisa beragama? Berdasarkan pandangan Kristiani, tentu saja kita tidak dapat menerima pengertian agama yang sudah direduksi oleh para pemikir sekuler tersebut.

Netland memberikan definisi mengenai agama, yaitu sebuah realitas kompleks yang terdiri dari beragam cara pemahaman dan tanggapan multidimensional terhadap apa yang dianggap sebagai makna puncak.[8] Sehubungan dengan ini, Tong menjelaskan bahwa agama merupakan perwujudan atau respon dari sifat agama yang telah ditanamkan Allah.[9] Ketika Allah menciptakan manusia segambar dan serupa dengan Allah, sifat agama untuk dapat merespon kepada Allah tertanam di dalam manusia atau yang disebut sensus deitatis sebagai wahyu umum.[10] Bahasa Ibrani dari kata “gambar dan rupa” adalah tselem dan demuth. Kata tselem merujuk kepada komponen-komponen sifat Allah yang ada di dalam diri manusia, seperti manusia dapat berpikir, berkehendak, marah, dan juga mengasihi, sedangkan demuth dapat diartikan sebagai kualitas dari komponen-komponen tersebut, yang mana kualitas dari demuth manusia tentu berbeda dengan kualitas yang dimiliki Allah. Manusia memiliki sifat kekekalan, moralitas, kehendak bebas, rasio, yang memungkinkan manusia untuk merespon terhadap Penciptanya. Tidak ada manusia yang tidak memiliki sifat agama. Jika manusia tidak memiliki sifat agama, maka ia tidak berbeda dengan binatang. Binatang tidak memiliki sifat agama, sehingga tidak dimungkinkan untuk  berespon kepada Allah.

Jika sifat agama berasal dari Allah, mengapa muncul banyak sekali agama-agama yang merupakan hasil respon manusia terhadap sifat tersebut? Bukan hanya melahirkan banyak sekali agama, bahkan penyangkalan terhadap adanya Tuhan (ateisme). Dalam Roma 1:18-20, Paulus mengatakan bahwa manusia menekan kebenaran yang ada di dalam diri mereka. Ketika manusia melihat ciptaan Allah (Wahyu Umum), matahari, pepohonan, alam semesta, sebenarnya mereka tidak mungkin menyangkal bahwa ada yang Ilahi, pencipta dari apa yang mereka saksikan sendiri, namun mereka menekan sifat agamanya dan menyangkal dengan mengatakan “tidak ada Allah!” (Mzm. 53:2). Mengapa bisa terjadi seperti ini? Alkitab memberikan kepada kita penjelasan yang tidak ada di dalam kitab suci agama manapun, yaitu bahwa manusia pertama telah jatuh ke dalam dosa dan menyebabkan keturunannya mewarisi natur dosa. Dosa merusak semua faculties dalam diri manusia, baik pikiran, perasaan, maupun kehendak, sehingga manusia tidak lagi dapat atau mau mencari Allah yang benar (Rm. 3:11). Dosa inilah yang menyebabkan respon terhadap sifat agama tersebut menjadi terdistorsi atau jauh dari kehendak Allah. Seperti yang dikatakan oleh Netland dan Tong, bahwa agama merupakan respon terhadap yang ilahi, sehingga lahirlah agama-agama yang berbeda.

[1] Keith Yandell, Buddhism: A Christian Exploration and Appraisal (InterVarsity Press/Paternoster, 2009), xiii.

[2] Stephen Tong, Iman dan Agama (Surabaya: Momentum, 2014), 17. Stephen Tong menyebut kepercayaan-kepercayaan ini paling tidak memiliki sifat agama.

[3] Untuk melihat penjelasan dari masing-masing dimensi ini, lihat dalam Netland, Encountering Religious Pluralism, 209.

[4] Shahih al-Bukhari 4.52.50

[5] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, 73.

[6] Armand M. Nicholi, Handbook of Spirituality and Worldview in Clinical Practice – Editied by Allan M. Josephson and John Peteet (Washington DC: American Psychiatric Publishing, 2004). Armand mengatakan definisi ini sebenarnya bersumber dari pemikiran Ludwig Feuerbach, seorang yang sangat berpengaruh terhadap Freud, namun Freud sering sekali lupa untuk memberikan credit kepada ide Feuerbach ini.

[7] Stephen Tong, Iman dan Agama (Surabaya: Momentum, 2014), 24.

[8] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism (Malang: Terjemahan Literatur SAAT, 2015), 357.

[9] Stephen Tong, “Iman dan Agama” (Momentum: Surabaya, 2014), 65. Stephen Tong seringkali membedakan agama dengan kebudayaan berdasarkan posisi manusia dalam merespon wahyu umum Allah. Kebudayaan merupakan respon manusia terhadap wahyu umum secara eksternal, sedangkan agama merupakan respon manusia pada wahyu umum secara internal.

[10] W. Gary Crampton,  Verbum Dei: Firman Allah (Surabaya: Momentum, 2008), 32.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: