Kekristenan dan Pluralisme Agama (1)

Pendahuluan

Pernyataan Yesus Kristus di dalam Yohanes 14:6, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” adalah sebuah klaim yang sangat berani dan eksklusif. Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah the only way untuk mencapai keselamatan dan Surga di dalam kekekalan. Ayat ini jelas menolak semua klaim tentang jalan keselamatan yang ada di dalam semua agama, sebelum maupun sesudah Kristus berada di dunia ini, sebab memang tidak ada tokoh pendiri agama-agama yang berani menyatakan dirinya adalah “Kebenaran”. Muhammad, Siddharta, Konfusius, Lao Tzi, Mahavira, dan pendiri agama lainnya, tidak pernah menyatakan dengan eksplisit bahwa mereka adalah “Kebenaran” itu sendiri. Namun, tentu saja tidak semua orang setuju dengan klaim Yesus tersebut karena menurut mereka masing-masing agama memiliki jalannya sendiri untuk mencapai sebuah realitas yang ultimat.

Zaman postmodernitas telah menjadi tantangan bagi iman Kristen. Dalam budaya ini, orang menjadi curiga terhadap klaim-klaim kebenaran dan cenderung menuju kepada relativisme dan pluralisme agama di dalam kepercayaan. Relativisme merupakan pandangan bahwa tidak ada kebenaran yang absolut atau yang terlepas dari konteks dan bisa diterapkan kepada semua orang, karena hal itu kembali kepada pendapat masing-masing.[1] Pluralisme agama mengaklaim bahwa karena semua kebenaran relatif, maka semua pandangan dan agama harus dianggap setara.[2] Keselamatan (atau pencerahan/pembebasan) harus diakui ada di semua agama dan tidak ada agama yang dapat mengklaim dirinya normatif atau superior dibanding agama-agama lain.[3] Namun apakah benar semua kebenaran relatif? Orang yang mengatakan “semua kebenaran relatif” atau “tidak ada kebenaran yang absolut” tidak sadar bahwa sebenarnya ia ingin supaya pernyataan itu sendiri diterima oleh orang lain secara absolut dan bukan relatif. Juga tentang pluralisme agama agama yang mengatakan semua agama itu sama, bagaimana mereka bisa mengatakan semua agama itu sama? Agama-agama monoteisme percaya adanya satu Tuhan, sedangkan Buddha adalah agama ateis dan Hindu di India percaya kepada 330 juta allah atau dewa-dewi. Kristen percaya Yesus adalah Tuhan dan mati di kayu salib, sedangkan Islam dan Yudaisme tidak percaya akan hal itu. Bahkan konsep Surga di dalam Kristen dan Islam berbeda. Kekristenan menyatakan Surga adalah persekutuan dengan Allah Tritunggal dalam kemuliaan dan kekudusan selama-lamanya, sedangkan Islam mengatakan Allah berjanji memberikan bidadari/virgins kepada laki-laki.[4] Pernyataan “semua agama sama” adalah tidak masuk akal.

Sejak tahun 1965, pertambahan jumlah imigran di Amerika Serikat meningkat dengan pesat, sehubungan dengan adanya undang-undang imigrasi.[5] Ketentuan tersebut memungkinkan kelompok tertentu yang dahulu dengan hati-hati dibatasi atau bahkan dilarang masuk, seperti penduduk Tiongkok dan Jepang, dapat masuk dengan syarat-syarat yang sama dengan warga Eropa. Netland mengatakan hampir 40 persen dari gelombang imigran baru ini mengalir dari Asia; jutaan orang membawa serta tradisi dan iman Hindu, Islam, Buddha, Jain, dan Zoroaster.[6] Tentu kita mengetahui banyak sekali tradisi dan agama yang berasal dari Asia. Penelitian dari Diana Eck, pimpinan Proyek Pluralisme agama di Harvard memberikan data bahwa ada sekitar 5,5 juta penganut Muslim di Amerika Serikat, kira-kira 1,3 juta pemeluk Hindu, dan sekitar enam ratus  ribu orang Buddha.[7] Pada 1997, Chicago Tribune melaporkan bahwa ada lebih banyak Muslim dibanding orang Yahudi di metropolitan Chicago.[8] Tidak hanya di Amerika saja, Tradisi dan agama timur ini juga mempengaruhi Eropa. Salah satu contoh yang terkenal adalah kedatangan The Beatles ke India untuk berguru kepada Maharishi Mahesh Yogi.[9] Hal inilah yang menjadi tantangan bagi orang Kristen, seperti yang dikatakan oleh Robert Wilken:

“Orang Kristen sejak lama harus menghadapi tantangan dari agama-agama lain. Sejak abad ketujuh, sebagian besar dunia Kristen – orang Kristen yang berdiam di Mediterania Timur seperti Mesir, Syria, dan Irak, hidup bersama dengan Islam yang tampak tak terkalahkan… Bahkan pada abad pertengahan yang dianggap sebagai masa keemasan dan hegemoni politik agama Kristen sekalipun, para pemikir Kristen Barat ditantang oleh komunitas Yahudi yang ada di tengah-tengah mereka dan juga oleh keberanian filsuf-filsuf Islam… Apa yang orang Kristen hadapi saat ini adalah pluralisme agama agama…”[10]

Toleransi agama pada zaman ini sangat beresiko, tanpa kita sadari, untuk membawa kita kepada relativisme dan pluralisme agama. Masyarakat “dipaksa” untuk menutup mulutnya ketika hendak membicarakan soal agama di dalam komunitas yang di dalamnya terdapat berbagai penganut agama, alasannya adalah supaya tercipta masyarakat yang damai. Menyinggung mengenai agama lain atau menceritakan kepercayaan kita kepada orang lain, dengan kata lain menginjil, dianggap tidak toleran atau tidak menghormati kepercayaan orang lain. Tentu hal ini sangat berbahaya dan bertentangan dengan Kekristenan. Yesus memerintahkan kita untuk memberitakan injil, yaitu menyatakan klaim Yohanes 14:6 tersebut, tentunya dengan hikmat dan cara atau metode yang baik dan tepat. Memberitakan injil adalah sebuah keharusan di dalam Kekristenan, seperti amanat agung Yesus di Matius 28:19 dan yang dikatakan Paulus di dalam 1 Korintus 9:16, “Karena jika aku memberitakan injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan injil.” Yesus tidak pernah mengajarkan toleransi, tapi Dia mengajarkan untuk mengasihi sesama. Salah satu wujud kasih adalah menyatakan kebenaran, yang didalamnya juga termasuk menegur kesalahan (Mrk. 12:38-40; Luk. 19:45-48, 20:9-18).

Namun pertanyaan yang muncul adalah “Apakah benar Kekristenan adalah agama yang paling benar?”, bukankah adalah suatu arogansi, jika Kekristenan berani mengakui bahwa Kristuslah satu-satunya kebenaran? Sebagai orang Kristen, tentu sangat penting untuk memikirkan hal ini, untuk mempelajari agama-agama lain, dan mengetahui apa keunikan Kekristenan diantara agama-agama tersebut, sehingga kita dapat dengan yakin mengatakan seperti yang Paulus katakan: “I know whom I have believed”.

[1] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism (Malang: Terjemahan Literatur SAAT, 2015), 152.

[2] Lihat https://arcapologetics.org/objections/has-postmodernism-killed-truth.

[3] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism (Malang: Terjemahan Literatur SAAT, 2015), 55.

[4] Sura 55:70-74; 78: 31-34

[5] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, 7.

[6] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, 7.

[7] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, 7.

[8] Harold Netland, Encountering Religious Pluralism, 7.

[9] Kim Aitken, The Beatles, (Sywell: Igloo Books, 2014), 96.

[10] Robert Wilken, Remembering the Christian Past, dalam Encountering Religious Pluralism (Malang: Terjemahan Literatur SAAT, 2015).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: