Wawasan Dunia

      Setiap orang, secara sadar maupun tidak, pasti memiliki wawasan dunia (worldview), entah itu benar dan dapat dihidupi atau tidak, yang ia bawa dalam memandang segala sesuatu di dalam kehidupannya. Wawasan dunia merupakan skema konseptual yang kita pakai untuk meletakkan segala sesuatu yang kita percayai dan yang olehnya kita menginterpretasi dan menilai realitas.[1] Wawasan dunia dapat diumpamakan seperti sebuah kacamata, yang apabila tepat bagi penggunanya akan memberikan penglihatan dan fokus yang benar. Apabila seseorang menggunakan worldview yang salah, dunia ini akan tampak tidak masuk akal baginya. Walaupun itu tampak masuk akal baginya, tetapi secara objektif adalah salah dalam berbagai hal.

      Memiliki wawasan dunia yang benar adalah hal yang sangat penting dan sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk mengisi hidup kita agar seturut dengan Firman Allah dan juga menjadikan orang lain seperti itu. Dengan kata lain, tujuan utama orang Kristen adalah menjadi seperti Kristus dan menjadikan orang seperti Kristus. Tugas itu merupakan amanat Agung dari Kristus sendiri (Mat.28:19-20). Hal ini merupakan peperangan yang tidak dapat dihindari, terutama di dalam dunia ide. Dalam surat Paulus kepada jemaat Efesus, perintah untuk menggunakan selengkap senjata Allah bukanlah hanya berbicara mengenai peperangan dalam aspek moralitas dan spiritualitas saja, tetapi juga dunia ide.[2] Dalam ayat 17, Paulus memerintahkan untuk menggunakan ketopong keselamatan dan juga pedang Roh, yaitu Firman Allah. Inilah yang juga dimaksudkan oleh Petrus di dalam suratnya 1 Petrus 3:15, bahwa kita diperintahkan untuk selalu siap sedia memberi pertanggungan jawab kepada setiap orang yang meminta pertanggungan jawab: “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu…”. Kata “memberi pertanggungan jawab” di dalam bahasa Yunani adalah apologia (ἀπολογία), yang berarti “memberikan pembelaan”. Tentu yang dimaksudkan dengan pembelaan di ayat ini bukanlah Kristus yang dibela, karena Allah kita tidak perlu ditolong atau dibela. Pertolongan dan pembelaan tidak menambah atau mengurangi kredibilitas atau kemuliaan-Nya, tetapi yang perlu dibela adalah iman Kristen yang kita percayai dan hidupi, dan juga bukan saja sekedar membela dalam pertahanan, tetapi untuk meyakinkan orang lain bahwa iman atau wawasan dunia Kristen adalah yang paling unggul di antara wawasan dan iman lainnya.

[1] Ronald Nash, Faith and Reason (Zondervan: Michigan, 1988), 24.

[2] Ronald Nash, Konflik Wawasan Dunia (Jakarta: Momentum, 2012), 14.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: